Entri yang Diunggulkan

Dahulu Mana, Telur dan Ayam?

Pertanyaan klasik dan ajeg yg jadi bahan debat tanpa ujung jika ngrembug bab Sangkan adalah... . . . . . Disit ndi endog karo pitik? (Dulu m...

Tampilkan postingan dengan label pakarti. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pakarti. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 Juli 2015

Ciptoning Mintaraga



Sungguh tak mudah berteguh hati tuk tetap ngeningken cipta nenuwun Sih-ing Gusti Hyang Agung agar senantiasa pinaringan rahayu di tengah godaan para wanita yang sulistya ing warna.

Dan tanpa ragu jugar dari tapa tuk mbrasta angkara murka saat tahu ada pengacau, setelah itu lanjut nenuwun Sih-ing Gusti Kang Maha Asih agar senantiasa dalam limpahan Kasih-Nya.

Pamilah antara laku lahir dan batin, antara kepentingan pribadi dan masyarakat, yang seiring sejalan saling mengisi demi rahayuning sarira, kulawarga, nusa, bangsa lan negara, sebagaimana lakon Ciptoning Mintaraga, sungguh tidak mudah... Abot pitukone!!!

Tapi, seberat apapun itu, tetap hanya jadi wacana saat tidak dibuktikan, tidak dinyatakaken. Hanya jadi pemanis bibir saja.

Maka, seberat dan sesulit apapun, harus dinyatakaken dengan sepenuh hati, najan tuk setitik kudu dadi kenyataaning laku lan tumindak, ora ketang sepira tetep dadi tabeting pakarti kautaman lan kaluhuran.

Bab tekan sepira pikolehe, gumantung marang sapira iguh pratikele kanggo gawe rahayu.

Kebumen, 12 Juli 2015
-Djati-

#Panggugah

Minggu, 28 Desember 2014

Kesimpulan Akhir



Kesimpulan akhir setelah nglembur nonton Mahabharata (cuz g sabar
nunggu yg diputer di ANTEVE) adalah...

"LUHUR LAN ASORING MANUNGSA GUMANTUNG MARANG PITUKONE-PAKARTINE. KABEH
BAKAL NGUNDUH WOHING PAKARTI."

Kesimpulan yg sama yg ku dapatkan saat aku selesai membaca Mahabharata
sesuai pakem Jawa (meski hanya garis besarnya saja).

Untuk kedalaman pelajaran alias piwulang dan kaweruhnya, masing-masing
memiliki kekhasan sesuai akar budaya setempat. Berhubung aku Wong
Jawa, dari kecil yang ku baca, tonton dan dengarkan adalah yang Jawa (yang India,
kelas 6 SD baru mulai tahu, itupun dengan banyak pertanyaan, sebab banyak
perbedaan dengan yang Jawa) maka yang Jawa lebih banyak kupahami, bisa
diterima dan nabet di hati daripada yang India.

Kesimpulan pokok hanya satu, tambahane? Uuuakeeeeeh... Baik yang India
maupun yang Jawa.

Plus... Tokoh maupun karakter yang disukai sesungguhnya juga
mencerminkan pribadhi kita dan atau cita-cita kita. Betul ga? Akan
seperti apa kita dalam memahami, juga sesuai dengan kapasitas dan
kemampuan kita.


Kebumen, 28 Desember 2014
-Djati-