Entri yang Diunggulkan

Dahulu Mana, Telur dan Ayam?

Pertanyaan klasik dan ajeg yg jadi bahan debat tanpa ujung jika ngrembug bab Sangkan adalah... . . . . . Disit ndi endog karo pitik? (Dulu m...

Tampilkan postingan dengan label jawa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jawa. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Juni 2015

Sembur, Tutur lan Uwur

Duluuu... Jamanku kecil, sering mendengar para orangtua berkata pada anaknya tentang Sembur, Tutur dan Uwur. Bahkan seringkali, Sang Anak diperintahkan agar meminta Sembur dan Tutur pada pinisepuh, sesepuh, yang dituakan di daerah setempat yang jadi pepunden setempat. Sedangkan Uwur, biasanya tidak dibicarakan di muka umum, tapi secara pribadhi antara Orang Tua dan Anak. Dewasa ini, ketiga kata tersebut sudah jarang terdengar. Hanya pada komunitas/kalangan masyarakat Jawa tertentu saja yang masih menggunakannya pada saat Anak-anak mereka menjelang dewasa dan atau akan merantau baik untuk belajar diluar daerah maupun bekerja. Ketiga kata tersebut sekarang sering diringkas menjadi 'Sangu saka wongtua' (bekal dari orangtua) yang jika dirinci tetap 3 hal. Doa, petunjuk dan uang tuk bekal awal mandiri. Tentunya, ini tetap sesuai dengan Sembur, Tutur lan Uwur. Sebab maknanya sama. Sembur adalah donga pangestu inggih doa restu dari orangtua atau sesepuh atau pepunden utk para putra wayah alias anak cucu agar senantiasa diberi kelancaran, keselamatan, kesuksesan yang penuh rahmat dan berkah Gusti Allah (tansah ingesihan dening Gusti, pinaringan rahayu widodo basuki raharja ing samudayanipun). Tutur adalah petunjuk dan atau arahan, piwulang, pelajaran, tuntunan dari orangtua, sesepuh, dan atau pepunden pada anak cucu bagaimana langkah terbaik untuk mencapai cita-cita sesuai dengan minat, kemampuan dan kapasitas anak cucu, sehingga bisa mrantasi gawe, bisa makaryo dg baik dan memperoleh kesuksesan kang berkah. Uwur adalah pemberian harta benda dari orangtua, sesepuh dan atau pepunden untuk bekal anak cucu dalam menjalani hidup dengan harapan bisa membuat anak cucu urip kepenak. Untuk yang benar-benar mampu, ketiga hal itu akan diberikan sendiri oleh orangtua pada anaknya. Sedangkan secara umum, Orangtua hanya akan memberikan 1 atau 2 hal dan untuk melengkapinya, akan menyuruh Sang Anak untuk meminta pada pinisepuh, tokoh atau pepunden setempat. Bahkan, lebih sering para orangtua hanya berkata, "Tek sangoni donga slamet, ben tansah slamet saparan-paran (ku bekali doa selamat, agar senantiasa selamat dimanapun)." Begitu sederhana, namun memiliki makna yang dalam. Tentang bagaimana pengaruh dari doa tersebut dan atau Sembur, Tutur lan Uwur pada perjalanan hidup Sang Anak, sangat tergantung dari iguh pratikele, usaha dan ikhtiar Sang Anak dalam menjalani hidupnya. Kebumen, 28 Mei 2015 -Dati-

Minggu, 28 Desember 2014

Kesimpulan Akhir



Kesimpulan akhir setelah nglembur nonton Mahabharata (cuz g sabar
nunggu yg diputer di ANTEVE) adalah...

"LUHUR LAN ASORING MANUNGSA GUMANTUNG MARANG PITUKONE-PAKARTINE. KABEH
BAKAL NGUNDUH WOHING PAKARTI."

Kesimpulan yg sama yg ku dapatkan saat aku selesai membaca Mahabharata
sesuai pakem Jawa (meski hanya garis besarnya saja).

Untuk kedalaman pelajaran alias piwulang dan kaweruhnya, masing-masing
memiliki kekhasan sesuai akar budaya setempat. Berhubung aku Wong
Jawa, dari kecil yang ku baca, tonton dan dengarkan adalah yang Jawa (yang India,
kelas 6 SD baru mulai tahu, itupun dengan banyak pertanyaan, sebab banyak
perbedaan dengan yang Jawa) maka yang Jawa lebih banyak kupahami, bisa
diterima dan nabet di hati daripada yang India.

Kesimpulan pokok hanya satu, tambahane? Uuuakeeeeeh... Baik yang India
maupun yang Jawa.

Plus... Tokoh maupun karakter yang disukai sesungguhnya juga
mencerminkan pribadhi kita dan atau cita-cita kita. Betul ga? Akan
seperti apa kita dalam memahami, juga sesuai dengan kapasitas dan
kemampuan kita.


Kebumen, 28 Desember 2014
-Djati-

Selasa, 02 September 2014

Gendhu-Gendhu Rasa

Gendhu-Gendhu Rasa menurut orang Jawa adalah suatu dialog dari hati ke hati yang dilakukan oleh dua pihak atau lebih dengan suasana penuh kekeluargaan, sebisa mungkin tanpa adanya tekanan dari pihak manapun untuk membicarakan dan mencari solusi terbaik atas permasalahan yang ada. Dalam melakukan dialog mengutamakan mencari titik temu yang baik bukan mengutamakan ego atau pembenaran pribadi.

Seringkali Gendhu-gendhu rasa dilakukan pada waktu senggang, santai alias tidak dilakukan dengan terburu-buru, bahkan perasaan yang akan diajak gendhu-gendhu rasa pun diperhatikan. Tidak asal melakukan dialog.

Meski terkesan santai dan seringkali disertai guyonan (guyon maton), gendhu-gendhu rasa adalah pembicaraan yang serius. Berdasarkan pengalaman, gendhu-gendhu rasa lebih banyak membicarakan hal-hal pribadi.

Ada interaksi timbal balik dan saling mengisi pada saat gendhu-gendhu rasa. Sebab, gendhu-gendhu rasa juga sekaligus menjadi pengungkapan beban yang ada dan mencari solusi terbaik tuk mengangkat beban itu.

Karena itulah, gendhu-gendhu rasa biasanya dilakukan oleh dua pihak atau lebih yang sudah saling percaya, kadang juga dilakukan oleh seorang wakil yang sudah diakui kredibilitasnya. Hal ini dilakukan agar hal-hal penting yang dibicarakan tidak bocor keluar.

Kadangkala, gendhu-gendhu rasa juga ditambah kalimat ngudha rasa, gendhu-ngendhu rasa kanggo ngudha rasa. Maksudnya adalah pembicaraan yang dilakukan antara dua pihak atau lebih dalam suasana kekeluargaan tuk ngungkapin uneg-uneg atau rasa yang mengganjal agar jadi plong dan diharapkan mendapat jalan keluar terbaik tuk hal tersebut sehingga permasalahan menjadi clear.

Hasil dari gendhu-gendhu rasa biasanya tidak langsung terlihat, terkadang butuh proses yang lama. Hal ini disebabkan karena hasil pembicaraan tetap ditelaah ulang oleh yang gendhu-gendhu rasa.

Hasil yang bisa dilihat adalah adanya perubahan sikap atau perilaku yang gendhu-gendhu rasa, terutama oleh orang-orang terdekatnya.

Satu hal yang tidak kalah pentingnya adalah, saat gendhu-gendhu rasa semua pihak memiliki kedudukan yang sama/sederajat.

Jadi, gendhu-gendhu rasa (meskipun sudah jarang dilakukan) adalah salah satu cara yang dilakukan orang Jawa untuk memperoleh jalan terbaik atas permasalah yang ada.



11 Desember 2013,

Djati