Entri yang Diunggulkan

Dahulu Mana, Telur dan Ayam?

Pertanyaan klasik dan ajeg yg jadi bahan debat tanpa ujung jika ngrembug bab Sangkan adalah... . . . . . Disit ndi endog karo pitik? (Dulu m...

Tampilkan postingan dengan label rasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rasa. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Juni 2015

Awal Ramadhan Tahun Ini Terasa Berbeda

Apa yg berbeda antara puasa hari pertama tahun ini dengan tahun lalu? Suara corong mushallah dan masjid. Beda? Ya! Tahun lalu, tadarusan mpe lewat tengah malem pake corong, jam 2-2.30an dah mulai rame mbangunin sahur diselingi qiraah mpe saat imsyak dilanjut adzan dan iqamat Shalat Subuh. Tahun ini? Tadarusan jam 22.30an dah selesai, jam 3an baru mulai mbangunin sahur itu pun g sekenceng dulu dan hanya sesekali, cenderung sepi, hampir g ada selingan qiraah sampai tiba waktu imsyak. Setelah itu, baru qiraah, puji-pujian dilanjut adzan dan iqamat Shalat Subuh rame berkumandang. Rupanya perkataan Pak Wapres, Pak Menteri Agama diikuti oleh para takmir mushallah dan masjid di daerahku. Entah di tempat lain. (Setidaknya untuk hari pertama Ramadhan tahun ini, hari berikutnya aku belum tahu). Apakah mengurangi bobot bulan Ramadhan? G kok... Suasana yg cenderung sepi malah bikin hati jadi lebih tertata dan bisa lebih meresapi makna Ramadhan itu sendiri, palagi saat dengar istri membaca beberapa surat pendek ditutup Ayat Kursi... Maknyeees... Tu bagiku, entah bagi orang lain. Mungkin ini ku rasa karena aku g suka rame-rame (maaf, bising), semadya saja plus hawa malam yang dingin semingguan ini mpe kalau pagi pedhut mengambang pekat di atas desa dan persawahan. Tu yang membuatku merasa Awal Ramadhan ini berbeda dengan tahun lalu, dari suasana lahiriah nembus ke batiniah. Tahap akhir dari setiap Ramadhan lah yang sebenarnya akan berbeda atau sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Akankah hanya mendapat lapar dan dahaga tanpa ada perubahan pada perilaku menuju akhlak mulia, ataukah benar-benar berbeda dari sebelumnya? Bukan hanya bisa menahan lapar dan dahaga, akan tetapi juga benar-benar memperbaiki diri dan perilaku menuju akhlak mulia (meskipun seharusnya, tanpa ibadah Ramadhan pun hal ini harus tetap dilakukan), sehingga pada saat Idul Fitri benar-benar kembali Fitri? Jujur saja, inilah tahap terberat dari Ramadhan itu sendiri. Bisakah benar-benar mbengkas hawa nafsu ataukah hanya sekedar menjadi ritual rutin tanpa makna? Jawabnya kembali pada diri kita sendiri dalam menjalani Ramadhan tahun ini dan tahun-tahun yang akan datang. Selamat menjalani Ibadah Puasa Ramadhan dan ibadah lainnya tuk mengisi bulan penuh berkah ini bagi yang menjalani. Semoga memberi nikmat penuh berkah bagi kita semua, benar-benar menurunkan rahmat bagi seluruh alam semesta seisi. Amin amin amin Ya Rabbal 'Alamin. Kamis, 18 Juni 2015 1 Ramadhan 1436 H -Djati-

Selasa, 02 September 2014

Gendhu-Gendhu Rasa

Gendhu-Gendhu Rasa menurut orang Jawa adalah suatu dialog dari hati ke hati yang dilakukan oleh dua pihak atau lebih dengan suasana penuh kekeluargaan, sebisa mungkin tanpa adanya tekanan dari pihak manapun untuk membicarakan dan mencari solusi terbaik atas permasalahan yang ada. Dalam melakukan dialog mengutamakan mencari titik temu yang baik bukan mengutamakan ego atau pembenaran pribadi.

Seringkali Gendhu-gendhu rasa dilakukan pada waktu senggang, santai alias tidak dilakukan dengan terburu-buru, bahkan perasaan yang akan diajak gendhu-gendhu rasa pun diperhatikan. Tidak asal melakukan dialog.

Meski terkesan santai dan seringkali disertai guyonan (guyon maton), gendhu-gendhu rasa adalah pembicaraan yang serius. Berdasarkan pengalaman, gendhu-gendhu rasa lebih banyak membicarakan hal-hal pribadi.

Ada interaksi timbal balik dan saling mengisi pada saat gendhu-gendhu rasa. Sebab, gendhu-gendhu rasa juga sekaligus menjadi pengungkapan beban yang ada dan mencari solusi terbaik tuk mengangkat beban itu.

Karena itulah, gendhu-gendhu rasa biasanya dilakukan oleh dua pihak atau lebih yang sudah saling percaya, kadang juga dilakukan oleh seorang wakil yang sudah diakui kredibilitasnya. Hal ini dilakukan agar hal-hal penting yang dibicarakan tidak bocor keluar.

Kadangkala, gendhu-gendhu rasa juga ditambah kalimat ngudha rasa, gendhu-ngendhu rasa kanggo ngudha rasa. Maksudnya adalah pembicaraan yang dilakukan antara dua pihak atau lebih dalam suasana kekeluargaan tuk ngungkapin uneg-uneg atau rasa yang mengganjal agar jadi plong dan diharapkan mendapat jalan keluar terbaik tuk hal tersebut sehingga permasalahan menjadi clear.

Hasil dari gendhu-gendhu rasa biasanya tidak langsung terlihat, terkadang butuh proses yang lama. Hal ini disebabkan karena hasil pembicaraan tetap ditelaah ulang oleh yang gendhu-gendhu rasa.

Hasil yang bisa dilihat adalah adanya perubahan sikap atau perilaku yang gendhu-gendhu rasa, terutama oleh orang-orang terdekatnya.

Satu hal yang tidak kalah pentingnya adalah, saat gendhu-gendhu rasa semua pihak memiliki kedudukan yang sama/sederajat.

Jadi, gendhu-gendhu rasa (meskipun sudah jarang dilakukan) adalah salah satu cara yang dilakukan orang Jawa untuk memperoleh jalan terbaik atas permasalah yang ada.



11 Desember 2013,

Djati