Entri yang Diunggulkan

Dahulu Mana, Telur dan Ayam?

Pertanyaan klasik dan ajeg yg jadi bahan debat tanpa ujung jika ngrembug bab Sangkan adalah... . . . . . Disit ndi endog karo pitik? (Dulu m...

Minggu, 08 Juni 2014

Siapakah Presiden Indonesia Selanjutnya, Prabowo Ataukah Jokowi?

Akhir-akhir ini, kalau ketemu temen atau saudara atau para sepuh, di
antara gayengnya perbincangan, ada 1 pertanyaan wajib yang terlontar
dan bikin aku senyum-senyum...

"Besok milih siapa, Mas?"
Dan kalau ga segera dijawab, bakal disusul kata-kata, "Kalau aku milih
Jokowi (jika dia pendukung Jokowi)/ Prabowo (jika dia pendukung
Prabowo)."

Nah, ada satu fenomena yang tambah bikin senyum simpul saat ku tanya
apa pilihannya di PILEG kemaren.

Apa itu?

Ternyata, Partai yang dipilih pas PILEG belum tentu sinkron dengan
figur yang dipilih saat PILPRES besok.

Seorang teman yang jualan di pasar bilang, "Aku ngesuk milih Jokowi,
Mas. Sampeyan pada karo aku ora?"
Aku hanya senyum lalu tanya, "Lha wingi milihe apa?"
Jawabane bikin kaget, "Wingi milih Gerindra sabab caleg-e wong daerahku, Mas."
Penasaran, ku tanya lagi, "Deneng ngesuk milihe Jokowi?"
Jawabnya adalah... "Sing penting tanggaku wis dadi, mlebu Jakarta
(maksudnya DPR Pusat), lha nek ngesuk milih Jokowi, sing pada karo
aku, sing ngerteni rasane aku, sing merakyat, gelem blusukan, ora
mbedakna wong. Nek Prabowo oralah, kaya kae... Ngerti dewek mbok?
Pokoke, Jokowi! Aja klalen ya, Mas..."
Dan aku pun berlalu, senyum sambil mikir... "Bisa gitu ya?"

Eh, ga lama berselang, terjadi hal yang mirip.

Pas ngobrol ma temen, tiba-tiba temen nyeletuk... "Mas, kayane
njenengan milih Jokowi ya? Ngapurane ya... Nyong beda karo njenengan.
Najan nyong PDI (maksudnya PDIP) tulen, ning milihe Prabowo ora milih
Jokowi."
Sambil senyum, aku tanya, "Kok gitu?"
Sambil senyum dia menjawab, "Sebab Prabowo tegas. Gara-gara sing siki
ora tegas (maksudnya Presiden SBY), nang ndi-ndi akeh wong ala, preman
pada nyruag, ora duwe isin wani karo sapa bae. Nek Jokowi sing
klemad-klemed dadi, arep kaya apa? Wis ben, Jokowi ngrampungna tugase
nang Jakarta dadi Gupernur, ben mateng, tambah pengalaman dadi go
sangu mbesuk (PILPRES 2014)."
Lengkap bener penjelasane.

Lalu, dia nanya, "Nek njenengan priben, Mas?"
Aku jawab, "Aku milih sing pedomane 3 hal, Merah Putih, Pancasila,
Bhinneka Tunggal Ika. Dene mengkone pilihanku pada utawa beda karo
njenengan, ora masalah, sabab kabeh nduweni ner dewek-dewek sesuai ati
nuranine. Sing penting tetep guyub lan rukun."
"Nah, cocog nek kaya kuwe... Nyatane, sapapun sing menang, sing bakal
dadi Presiden Indonesia," gitu kata temenku.
"Iya, kudu disengkuyung sapapun sing kepilih mengkone," kataku.

Dari 2 kejadian di atas, maka... Penentu pemenang Pilpres 2014 bukan
berdasarkan banyak/sedikitnya partai pendukung, tetapi figur yang
diusung sebagai Capres dan Cawapres, partai pendukung faktor kedua.

Kenapa?

Sebab, beberapa teman yang tadinya antusias akan ikut memilih karena
Capresnya cocok di hati, segera mengurungkan niatnya saat tahu siapa
yang menjadi Cawapresnya (ga cocok ma Cawapresnya), sedangkan memilih
Capres satunya setali tiga uang dengan yang pertama. Akhirnya
memutuskan tuk golput.

Secara umum ada 3 hal yang jadi penentu tuk memilih:
1. Ingin pemimpin tegas, memilih Prabowo.
2. Ingin pemimpin yang merakyat, akan memilih Jokowi.
3. Yang tidak cocok pada kedua pasangan Capres-Cawapres (apapun alasan
mereka), akan memilih untuk Golput.

Maka, jika berpatokan pada 3 hal tersebut, saat seseorang sudah punya
ner tuk memilih, atau bersikap, akan sangat sulit untuk diubah. Sebab
sudah matok bangkrung pada pilihan/sikapnya.
Kecuali, jika ada sesuatu yang fundamental terjadi sehingga bisa
merubah pendirian mereka.

Nah, untuk Swing Voters, tinggal bagaimana usaha para Capres-Cawapres
beserta Timses, para pendukung dan relawannya agar Swing Voters mau
memilih sesuai dengan keinginan mereka.

Maka, siapakah yang akan terpilih menjadi Presiden berikutnya, sangat
tergantung pada rakyat dan gerak para Capres-Cawapres, Timses dan
pendukung serta relawan masing-masing.

Siapapun nanti yang terpilih menjadi Presiden, semoga adalah yang
terbaik untuk rakyat, bangsa dan negara Indonesia, yang senantiasa
berpedoman pada Merah Putih, Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika.


Djati, 7 Juni 2014, 15:20

Jumat, 02 Mei 2014

AKU, KAU, KITA... SATU!!!

Bulan sabit meredup dan hilang di balik awan
Sang Jaka Belek terengah berpendar merah
Lintang Pari pun menghilang tak mau tunjukkan jalan
Gemintang menghilang ditelan rintik hujan...

Gerah... Peluk raga...
Resah... Dekap jiwa...
Lelah... Membuncah...
Letih... Membuih...
Asa berderak... Mulut berteriak...

AKU, KAU, KITA... SATU!!!

Ujung demi ujung bertaut, erat menyatu...
Rachsa demi rachsa berpadu...
Tarian jiwa lembut merajut cinta...
Nyanyian suksma syahdu penuh rindu...

Janji hati telah terucap tuk wujudkan asa
Lepas semua beban, hilang semua letih...
Berpijar, meletup sirnakan ragu di dada

Rintik hujan menjadi saksi
Ketika jiwa-jiwa berpadu...
Saat benih-benih ditanam kembali...
Tatkala langkah mantap berderap...
Di kala situasi serba tak pasti...
Demi senyum-senyum penuh kasih...
Untuk tawa-tawa penuh bahagia...

Untukmu, bakti ini... _/\_


(Djati, 02052014, 22:37)

Kamis, 02 Januari 2014

Pemimpin, Negarawan atau Tukang Ngisep Getihing Rakyat?

Seorang pemimpin yg benar-benar negarawan, pasti akan sangat dicintai,
dijaga dan dilindungi oleh rakyatnya, bahkan senantiasa didoakan dg
tulus ikhlas agar senantiasa pinaringan rahayu.

Titikane apa?
Tanyakanlah pada rakyat yg dipimpinnya tentang kehidupan mereka!!!

Pasti akan dijawab sambil senyum sumringah betapa senang kehidupan
rakyatnya, biasanya juga ditutup dengan doa yang baik utk Sang
Pemimpin.

Lha kalau jawabane malah dengan cemberut, prihatin, berkeluh kesah
betapa susah hidupnya, bahkan malah kelah, protes, caci maki dan
sumpah serapah...

Waaa... Itu pasti dipimpin oleh Pemimpin yg seneng ngisep getihing
rakyat, dadi buta rambut geni, buta ijo, yuyu rumpung, jurang grawah,
Padas Gempal lan sapanunggalane.

Lha, nek aku ditanya, "Pemimpin kita saat ini gimana?"
Kan ku jawab, "Tanyakanlah ke dirimu sendiri, jawablah setelah
memperhatikan kehidupanmu, keluargamu, dan masyarakat sekitarmu, lalu
telaah dengan padhanging ati, pikir kang wening, banjur rasakaken karo
rasa rachsaning pribadhimu, iya rasa kamanungsanmu."
Jawabanku sama dengan jawaban yg muncul di hati dan pikiranmu, sebab
rasa rachsaning manungsa iya rasa kamanungsan kabeh manungsa pasti
pada.


#RHN-041013byDjati

Rabu, 11 Desember 2013

KEBERSAMAAN PENUH CINTA

Pada akhirnya, yang bisa mempersatukan manusia dalam ikatan yang erat dan tidak terkotak-kotak adalah rasa kemanusiaan (rasa rachsaning manungsa), bukan Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan.

SARA yg ada pada akhirnya membuat kita bercerai-berai sebab menganggap pihak lain tdk sebaik kita, agar mereka baik maka mereka harus sama dengan kita. Jadine terkotak-kotak sesuai anggapan masing-masing.

Tapi, saat kita berbicara sebagai manusia, jika yang dibicarakan adalah tentang manusia secara utuh, yang memiliki rasa kemanusiaan-rasa rachsaning manungsa, maka yg tadinya berbeda akan memiliki kesamaan. Kalau sakit ya sambat atau nangis, senang bin bungah nggih mesem atau tertawa, lan sapiturute....

Kesamaan ini juga membuktikan bahwa sesungguhnya kita semua diciptakan oleh Sang Maha Pencipta yg sama.

Dan satu hal lagi yg membuat manusia bisa bersatu, yg merupakan anugerah terbesar dari Sang Maha Pencipta utk ciptaan-Nya adalah Cinta.

Semua pasti memiliki cinta, baik yang universal maupun yg personal.

Maka rasa terdalam manusia ketika tersentuh sisi kemanusiaannya, rumongsa diuwongake, dilenggahaken kamanugsane, yg akan timbul, tumbuh dan berkembang adalah Cinta.

Mengapa? Sebab kita, dan alam semesta raya ini diciptakan dg penuh cinta oleh Gusti Ingkang Maha Wikan. Jika tdk dg cinta, bagaimana mungkin semua bisa begitu teratur dan seimbang dalam segala sesuatunya?

Bukankah jika rasa cinta itu tumbuh di hati kita, pasti kita akan melakukan yang terbaik yang dapat kita lakukan agar apa yang kita cintai tetap terjaga dg baik?

Bhinneka Tunggal Ika tan hana dharma mangrwa

#SebuahRenunganPenuhCintaMapagSuran
-Djati, 4 November 2013

Lagu Cinta

Lagu Cinta mengalun lembut di  kedalaman jiwa
Saat tatap mata bertemu dan hati b'bicara tentang kasih
Tiada kata t'ucap dan waktu seakan b'henti

Detak jantung dua insan yg b'padu dlm jalinan cinta
Pelan, satu satu dan begitu menghentak dada...
JDUGGG... JDUGGG... JDUGGG...

Saat cinta b'semi di taman hati
Jiwa bertaut erat mengikat janji
Dunia terasa begitu indah
Sayap cinta begitu erat memeluk...
Hangat... Penuh bahagia...

Saat rindu mencengkeram jiwa...
Sembilu cinta toreh hati...
Pedih... Sepi...
Dingin menusuk nurani...

Genggam erat tanganku, wahai Kekasih...
Peluk diriku dg hangat kasihmu, duhai Pujaan Hati...
Agar hilang duka lara...
Agar lenyap rindu nan sepi...

I love U, My Queen

#EdisiKangen, SM 061105
Djati, 06 November 2013

Kekuatan Cinta

Cinta adalah anugerah teragung dari Sang Pencipta untuk ciptaan-Nya terutama manusia, karena itu juga cinta bisa menjadi sumber kekuatan terbesar untuk membangun dan pada sisi lain menjadi sumber kekuatan terbesar untuk menghancurkan manusia.

Sejarah telah membuktikan, Kekuatan Cinta mampu membuat peradaban berkembang sedemikian maju, penuh ketenteraman dan kebahagiaan.

Sejarah pula yang membuktikan pada kita, betapa dahsyat Kekuatan Cinta saat menjadi penyebar kehancuran umat manusia yang penuh kesengsaraan dan kekejian.

-Djati, 29 Oktober 2013-

Senyum Terindah Penuh Cinta

Senyum tercantik, terindah dan amat menawan di hati adalah senyum penuh kebahagian nan tulus dari hati terdalam yg penuh welas asih. Pasti senyum itu disertai tatapan penuh bahagia. Ah, sungguh sulit tuk menggambarkan perpaduan dari senyum terindah dan tatapan penuh bahagia itu...

Dan saat ditanyakan pada yg memberi senyum itu, dia seringkali g ngeh, g paham bahwa senyumnya benar-benar indah bikin hati berbunga-bunga, terbang melayang dan... entah bagaimana, waktu seakan terhenti begitu saja... Padahal senyum itu, tatapan itu... Hanya sekejapan mata...

Meskipun hanya sekejap mata... Jangan pernah anggap enteng efeknya! Amat sangat besar! Senyum itu, tatapan itu, semua moment yg ada akan terpatri di kedalaman jiwa, terpahat begitu dalam di hati dan menjadi sweet memories yg tak kan terlupakan sampai kapanpun, yg tak kan lekang oleh waktu. Yang kan membuat kita tersenyum bahagia kala mengingatnya.

Senyum dan tatapan macam ini, yg sering membuat seseorang jatuh cinta pada pandangan pertama, dan utk yg dah cinta pasti menjadi makin dalam cintanya. Mengapa? Sebab saat senyum terindah muncul, hatilah yg berbicara, kesentrum dengan tegangan yg sangat tinggi. Membuat bahagia menumbuhkan benih cinta yg berbunga rindu.

Nah, kalau itu telah terjadi... Pasti akan makin merindukan senyum nan penuh keindahan dan kebahagiaan ini. Maka, apapun akan dilakukan demi mendapatkannya, meskipun harus berkorban teramat berat.

Jika cinta yang ada bersambut dan terjalin erat, dengan membuatnya bahagia (perlu perjuangan yg amat berat dg seluruh kemampuan dan kapasitas masing-masing), sweet memories ini akan terulang dan terulang...

Nah, kalau cintanya bertepuk sebelah tangan atau cinta itu adalah cinta terlarang? Wah, sangatlah besar pengorbanan yg dibutuhkan. Sebab harus bisa membuat dia bahagia meskipun kebahagiaannya adalah bersama orang lain, bukan dengan kita.

Jika senyum terindah telah benar-benar menumbuhkan cinta yg tulus, maka meskipun menyakitkan melihatnya bahagia bersama orang lain, itu adalah kebahagiaan kita juga.
Dari sinilah ungkapan,
"Cinta tak harus memiliki." Yang menjadikan ironi dalam kehidupan.

# SweetMemoriesWillNotForgotten
-Djati, 22 Oktober 2013

Kebersamaan

Kalau semua sudah seiya sekata,
satu tujuan,
bersama dan bahu membahu,
mau melaksanakan tugas
dan kewajiban masing-masing
sesuai dg SOP yg ada serta kemampuan dan kapasitasnya
tanpa adanya kecemburuan, rasa paling benar, paling pintar,
tanpa adanya keegoisan atau rasa apapun yg setara dg itu...

Maka pekerjaan yg berat pun akan menjadi ringan,
yg seakan tak akan terselesaikan pasti bisa diselesaikan dg baik.

Ringan sama dijinjing berat sama dipikul.

Berbeda bukan berarti saling membedakan, saling membenci dan memusuhi...

Tetapi utk saling melengkapi dan mendukung demi kebaikan bersama.

Bhinneka Tunggal Ika tan hana dharma mangrwa


-Djati, 2 November 2013

C I N T A

Apa yang membuat semarak hidup?

Apa yang membuat rusuh hidup?
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
C I N T A ! ! ! ! ! ! !


#EdisiCinta
-Djati, 31 Oktober 2013

PANGGUGAH

Saatnya berdamai dan memaafkan,
agar semua luka nan perih terobati sempurna,
agar semua beban di dada terangkat seluruhnya.

Yang telah berlalu jadilah hikmah tuk melangkah ke depan,
merajut kembali asa dan mimpi yg sempat terberai...

Semua menjadi bekal,
semua menjadi pondasi nan kuat
dan teguh sentosa
agar kokoh dalam hadapi hidup.

Akan bagaimana kedepannya,
kabeh gumantung marang sapira pitukonku...

Aja ngasi agawe kucem asmane wong tuwa lan leluhur,
ja ngasi gawe nistane awake dewe,
aja ngasi agawe isin anak putu...
Amarga wus ninggal laku kaluhuran,
wus ninggal welas asih
amung mburu materi...

Tetep eling lan waspada, uripa kang prasaja.



#Panggugah, 151013-15.30
-Djati-

PAWELING

"Ndra, tek elingna ya... Materi pancen penting, wong urip butuh
materi. Tapi, kaluhuran lan welas asih tetep utama."

Paweling yang singkat, tapi sarat makna mendalam. Untuk mencukupi
hidupnya, kita-manusia membutuhkan materi baik berupa pangan, sandang
maupun papan. Dan ada satu hal lagi yang tak kalah pentingnya, yaitu
UANG.

Sebab jika memiliki uang kita bisa mendapatkan apapun yang kita
butuhkan, semakin banyak uang kita maka semakin banyak pula yang bisa
kita dapatkan.

Dewasa ini, ukuran sukses tidaknya seseorang lebih banyak dilihat dari
seberapa banyak materi yang dia punyai. Makin kaya raya seseorang
makin sukseslah dia. Tidak perduli jalan apa yang telah ditempuh
olehnya, yang penting berlimpah materi.

Bahkan, seandainya dia berkelakuan buruk pun masih terbuka celah tuk
membeli aturan dan perangkat atau petugas (oknum) yang berusaha
menegakkan peraturan. Terkadang, meski tetap ngrundel, orang lain
masih memberi toleransi atas sikapnya yg buruk.

Hal ini berbeda dengan orang miskin yang tak berlimpah materi.

So, paweling di atas bermaksud mengingatkan saya agar dalam mencari
materi untuk mencukupi hidup keluarga jangan sampai menghalalkan
segala macam cara bahkan sampai lupa pada laku kaluhuran yaitu
perilaku yang tidak nerak tatanan masyarakat dan negara serta tidak
melanggar nilai-nilai kemanusiaan dan Ketuhanan, serta senantiasa
penuh welas asih dalam setiap gerak hidup saya dan keluarga.

Untuk apa materi berjibun, rumah indah macam istana megah dan mewah,
harta benda melimpah ruah jika perilaku kita tidak lebih baik dari
hewan, bahkan lebih buruk?

Bukan kebahagiaan dan ketenteraman yang didapat, tiada ketenangan dan
senantiasa kemrungsung juga khawatir jika harta kita berkurang. Dan
adalah hal yang pasti, jika harta itu di dapat dengan jalan melanggar
kaluhuran, jauh dari welas asih, tidak akan bisa menikmati harta yang
ada, keluarga morat-marit dan terkena sakit yang susah tuk
disembuhkan.

Mengapa? Sebab harta itu didapat dari hal yang buruk, tentu pada
akhirnya akan membawa akibat buruk.

Berbeda dengan materi/harta yang didapat dengan jalan yang
baik-meskipun lebih lama dan mungkin hasil yang didapat tak sebanyak
jika kita ngiwung, harta itu akan membawa berkah bagi kita sekeluarga
serta orang-orang di sekitar kita. Sebab, seberapapun yang didapat
pasti akan kita syukuri dan entah bagaimana alhamdulillah bisa
mencukupi kebutuhan hidup yang ada.

Kita juga merasa tenteram dan bahagia dengan materi yang telah
didapat, tidak merasa was-was akan terjadi apa-apa dengan diri,
keluarga dan materi yang telah kita dapat. Sebab, kita benar-benar
tahu dan yakin bahwa itu didapat dengan cara yang baik.


Maka, jangan sampai memburu materi tapi lupa pada kaluhuran dan welas
asih. Sebab, apapun yang kita lakukan tuk mendapatkan materi itu, juga
akan berimbas langsung/langsung pada keluarga dan anak turun kita.

Jika kita tidak mau mpopok tai ke keluarga kita dan membuat susah
serta sengsara anak turun kita, maka carilah materi dengan baik jangan
nerak kaluhuran dan senantiasa welas asih pada siapapun. Insya Allah
berkah adanya.



#Paweling151013-10.15
-Djati-

Jumat, 06 Desember 2013

Ingin Tahu

Sifat Ingin Tahu adalah hal yang wajar, tetapi jangan diperturutkan
keingintahuan itu tanpa kontrol, harus empan papan. Jangan sampai asal
ada hp nggletak langsung diambil lalu membuka data yg ada, dan atau
jika ada dokumen (meskipun hanya dokumen biasa/remeh) dibuka tanpa
ijin. Lha kalau ada data penting yg multi tafsir padahal kita tdk tahu
pangkal dan ujungnya dari dokumen itu, apa ora mbanda kalani? Y, kl yg
punya terima... Kalau g? Berabe jadinya.
Meskipun hal ini juga bisa terjadi karena keteledoran yang punya
hp/data. Asal taruh karena merasa aman dan yang ada di tempat itu bisa
dipercaya (pikirnya begitu).

jika ingin tahu ini bisa empan papan, tdk akan berani buka data tanpa
ijin sebab ngrumangsani jika datanya sendiri dibuka orang lain tanpa
ijin, dia juga tidak terima, akan menjadi hal yang baik. Hal-hal yang
tidak semestinya tidak akan terjadi.

Meski sekedar iseng, keingintahuan seseorang jika tidak empan papan
akan menjadi bumerang. Sebab, efek dari keingintahuan yang tak
terkontrol adalah tidak akan dipercaya. Tidak akan ada orang yg berani
mempercayai orang yang dengan seenaknya membuka dokumen (apapun
dokumen itu) tanpa seijin yang punya.

Selanjutnya, tentu tidak akan ada yg mau mengajak bicara serius,
penting apalagi rahasia.

Dan entah bagaimana, pasangan sifat ingin tahu yg lepas kendali adalah
mudah membuka apa yang dia ketahui meski hal amat penting bahkan amat
rahasia (ngember gitu lho...) pada pihak lain, terlebih lagi jika ada
iming-imingnya.

Apa jadinya jika jadi kurir, malah membuka sendiri apa yg seharusnya
hanya dibuka oleh yang berhak, lalu menggunakan info yang didapat
untuk hal-hal yang bukan semestinya? Wah... Pasti jadi ruame sekali
dan bisa menjadi awal pertikaian yang besar. Orang Jawa bilang,
"Kriwikan dadi grojogan."

Jadi, meskipun terlihat biasa dan remeh, sifat ingin tahu jika tidak
empan papan akan menjadi sesuatu yg berakibat buruk bahkan sangat
fatal.


NB: pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan juga dari rasa ingin tahu.
So, jika ingin tahu dikelola dengan baik akan sangat bermanfaat bagi
kehidupan kita.



#EmpanPapan21102013
-Djati-

Kesehatan Yang Berbalik Arah

Apakah, "Kesehatan Yang
Berbalik Arah," itu?

Kesehatan yg berbalik arah adalah, kondisi kesehatan pada orang yg
sedang sakit/pasien ketika memperoleh perawatan/penanganan medis atau
alternatif (herbal, pijat atau terapi alternatif lainnya) terlihat dan
terasa bertambah sakit/parah, makin tidak nyaman, tetapi jika
dilakukan observasi keseluruhan dlm jangka waktu tertentu, ternyata
ada hasil yg signifikan antara sebelum dan sesudah mendapatkan terapi.

Hal ini bisa terjadi selama 3-7 hari, atau utk kasus yg berat 1-3
bulan awal seakan tdk ada perkembangan membaik karena proses
recovery-nya berjalan amat lambat.

Tentunya, terapi seperti ini harus dilakukan dan diawasi terus menerus
oleh ahlinya, baik secara medis (jika terapi medis) maupun alternatif
(jika terapi alternatif) bahkan gabungan medis dan alternatif agar
tidak terjadi kesalahan dalam penanganan disertai dengan adanya
komunikasi yg intens antara yg memberi terapi dg pasien/pihak keluarga
pasien.

Sehingga bisa diperoleh hasil yg bagus, memuaskan, sehingga kesehatan
pasien benar-benar berangsur pulih sebagaimana mestinya.


10 Oktober 2013
-Djati-

Laknat Atau Rahmat?

Setinggi apapun ilmu dan pengetahuan yg dikuasai-sundul langit pisan,
sebenar dan seluhur apapun itu, jika hanya jd retorika, teori, ujub,
kesombongan, pembenaran pribadi, micek mbudeg dengan keadaan sekitar
bahkan sebagai alasan utk memusuhi serta justifikasi membunuh sesama
manusia (bahkan pada yg sehaluan saja tega, apalagi yg jelas-jelas
berseberangan) serta selalu ngumbar hawa nafsu itu, sama saja memupuk
kehancuran, menebar angin, mengundang laknat dan azab Tuhan Yang Maha
Segalanya.

Jika saatnya tiba, sekuat apapun itu, pasti hancur terjerumus ke
jurang kenistaan dan kehancuran tanpa ada yg bisa menolong.

Tetapi, jika ilmu dan pengetahuan itu diimplementasikan, dinyatakan
dalam tindakan nyata dengan sepenuh hati, seberat apapun sanggane
bahkan dengan taruhan nyawa sesuai kapasitas masing-masing sehingga
pada akhirnya bisa gawe rahayuning sarira, kulawarga, nusa lan bangsa,
maka jika itu dilakukan, tak akan ada apapun yg bisa
menghalang-halangi saat Tuhan Yang Maha Segalanya melimpahkan rizqi
penuh rahmat dan berkah-Nya.

Jadi, akan mendapat laknat atau mendapat rahmat semua ada di tangan
kita, semua tergantung dari apa yang sudah, sedang dan akan dilakukan.



29 Juni 2013
-Djati-

Kamis, 05 Desember 2013

Purnama Tersenyum di Bumi Mataram

Purnama Tersenyum di Bumi Mataram


Purnama tersenyum di Bumi Mataram
Ragaku terdiam menikmati lembutnya sinar purnama
Jiwaku bernyanyi lagu cinta
Sukmaku menari tarian rindu

Semilir angin bisikan asa ribuan jiwa
Gemericik air sejukkan hati yg membara

Bumi dan langit menjadi saksi janji yg terucap
Agar senyum bahagia itu...
Senantiasa hiasi wajah-wajah orang terkasih
Agar tawa ceria...
Selalu isi hari yg terus berlalu

Bangkitlah!
Tetapkan hati tuk melangkah!
Songsong Sang Kala dengan Keluhuran Budi
Agar angkara tak mengakar di kedalaman nurani!
Agar mentari tetap
berseri penuh semangat!
Agar purnama tetap tersenyum penuh cinta!
Ribuan hari dan ribuan malam tiada henti


26 Maret 2013, 19:50
-Djati-

Jumat, 06 Mei 2011

Berlalu Tanpa Makna Sekejap Menoreh Arti

Seringkali… sesuatu berlalu tanpa makna
Lenyap tanpa kesan, hilang tak berbekas
Seperti asap yang tertiup angin…

Saat ditanya tentang hal itu…
Tak kan sanggup menjawab
dan berpikir berulang kali
Tuk mengingatnya…
namun tiada hasil…

Karena sesuatu yang berlalu tanpa makna,
lenyap tanpa kesan, dan hilang tak berbekas…
Akan terlupakan begitu saja.

Kadang… walau sekejap dialami…
Sesuatu torehkan kenangan yang tak kan terlupakan
Membawa kesan yang sarat makna dan terpatri di dasar hati
Membekas begitu dalam di relung jiwa

Saat dia hadir…
Semua kenangan kan muncul begitu saja
Dan berjalan di hatimu seperti sebuah film

Torehkan pedih dan perih…
Bila kenangan itu penuh luka menyakitkan

Tebar kasih yang hangat,
damai dan sarat kebahagiaan…
Jika kenangan itu indah dan menyenangkan

Pengkhianatan
selalu torehkan luka dan dendam

Kesetiaan
selalu tebar keharuan dan cinta kasih

Kegagalan
bawa sesal mendalam atas kesalahan langkah kita

Keberhasilan
hadirkan kepuasan dan kebahagiaan
atas apa yang kita perjuangkan

Sesuatu yang tiada arti… tiada makna
Kan berlalu dan hilang bersama angin yang berhembus!

Ambivalensi

Tuhanku Yang Maha Penyayang…
Ada beberapa hal yang bertentangan dalam firman-Mu… dan di firman lain… kedua hal yang bertentangan itu mendapatkan semacam pengesahan dari-Mu… aku tak tahu… apa maksud semua ini…
Saat Kau berfirman bahwa, orang yang melanggar perintah-Mu dan menjalankan larangan-Mu maka akan Engkau siksa dengan siksa yang amat pedih, dan akan Engkau beri azab yang sangat menyakitkan…
Namun, kenyataannya?
Banyak umat-Mu yang senantiasa melanggar hukum-Mu tetap senang, bergelimang kemewahan, harta benda dan kekuasaan hanya karena ia tekun berusaha untuk merubah nasibnya (meskipun di jalan yang salah).
Saat Engkau berfirman, manusia yang senantiasa tunduk kepada-Mu akan Engkau beri nikmat yang lebih, akan Kau beri kebahagiaan.
Kenyataannya banyak orang yang tidak bahagia… meskipun ia berusaha untuk men-dapatkannya… (ia tunduk terhadap perintah-Mu dan menjauhi larangan-Mu Ya Rabbi).
Tuhanku… Engkau berfirman, ”Aku senang mendengar doa umat-Ku.” Akan tetapi, apakah karena Diri-Mu Yang Agung ini senang mendengar doa umat-Mu yang memohon dengan sepenuh hati, lalu Engkau menunda rizki yang semestinya dia dapatkan? (aku tahu, jika hanya doa, itu percuma, harus ada usaha maksimal untuk mendapatkan apa yang diinginkan, diiringi doa).
Namun, mengapa insan yang telah berusaha, tetap saja rizkinya Kau tunda hanya karena Engkau senang mendengar doa umat-Mu? Apakah itu karena umat-Mu telah mencapai batas maksimal dari takarannya?
Apakah karena dia sudah sampai pada garis yang ditetapkan? Sebagaimana ajaran para Orang Suci,  “ Manusia lahir telah membawa empat hal. Hidup, mati, jodoh dan rizki.”
Tuhanku… sesungguhnya, aku tak memahami semua ini… (pada dasarnya, manusia memang tak kan bisa memahami ketentuan Sang Maha Takdir, karena itu diluar batas kemampuannya).
Tuhan… sampai saat ini, hanya satu yang kupahami dengan pasti… semua usaha akan memperoleh hasil, terlepas dari patuh tidaknya pelaku usaha itu kepada perintah dan larangan-Mu.
Tuhan… pertanyaan tadi seolah ingin memungkiri Kekuasaan-Mu Yang Maha Agung, namun… sebenarnya tidak. Karena semakin aku berpikir, semakin terbuka pemahamanku tentang hal yang kutanyakan. Semakin kuyakini bahwa Engkau selalu memberi apa yang diminta umat-Mu, meskipun ia mengingkari-Mu.
Bahwa nasib orang telah digariskan, tetapi… Engkau memberi kebebasan untuk orang itu mengubahnya sebagaimana firman-Mu:
”Nasib suatu kaum tak akan berubah sampai kaum itu sendiri yang (berusaha) merubah nasibnya.” Di firman ini tak disebutkan, apakah saat (berusaha) merubah nasib, kaum tersebut harus beriman kepada-Mu atau… tidak beriman.
Allah Yang Maha Mencintai, Engkau mencintai tanpa batas, tanpa membedakan…
Tuhanku, semakin aku sadari, bahwa manusia diharuskan untuk mencari makna sejati, arti hidup manusia itu sendiri. Manusia harus mengetahui mengapa dia hidup di bumi… harus berusaha untuk mendapatkan keinginannya… semakin ku pahami bahwa, manusia memang memiliki batas maksimal dikehidupannya. Dan hanya dengan kekuasaan-Mu serta ridho-Mu lah yang mampu membuat manusia melampaui batas maksimal itu.
Mungkin pemikiranku terlalu naif, terlalu aneh, terlalu mengada-ada… terlalu picik, bahkan mungkin… memberontak! Tapi ku tak peduli… bagiku, semua adalah sesuatu yang kurasakan, kualami, kunikmati, kupahami sebagai suatu pengalaman pribadi, sebagai sesuatu yang aku alami sendiri, sebagai kenyataan yang telah kujalani.
Bagiku, apa yang telah kudapat selama ini, sehingga ketika aku berpikir dan mengolah semua pertanyaan dan jawaban yang diajukan oleh siapa pun, termasuk pertanyaan dan jawaban dariku sendiri atas segala hal yang ada di kehidupan manusia, dan terutama pertanyaan seperti yang telah kuuraikan, bukan berarti aku tak mempercayai Tuhan Ada dan Maha Kuasa Atas Segalanya.
Karena pada akhirnya, jawaban yang muncul dari pertanyaan tersebut makin mengukuhkan keyakinanku, pemahamanku, pengertianku, atas keberadaan Tuhan Yang Maha Segalanya.
Bagiku, berpegang pada kenyataan hidup (baik yang berasal dari diri sendiri ataupun dari orang lain) akan membuatku lebih mantap serta terarah dalam menjalani hidup dan kehidupan ini.

Pertanyaan Manusia

Dalam kehidupan ini…
Terdapat empat kriteria pertanyaan yang diajukan manusia

Pertama adalah pertanyaan yang diajukan
Orang yang tak tahu kalau dirinya tak tahu

Kedua adalah pertanyaan yang ditanyakan
Orang yang tak tahu kalau dirinya tahu

Ketiga adalah pertanyaan yang disampaikan
Orang yang tahu kalau dirinya tak tahu

Dan terakhir adalah…
Pertanyaan dari orang yang tahu kalau dirinya tahu

Ada banyak tawa dari pertanyaan yang diajukan oleh kriteria pertama
Pertanyaan yang sering diajukan oleh anak kecil…
Yang kadang ketika dijawab malahan membingungkan
Namun, masih banyak orang dewasa
Berada pada kriteria pertama

Pertanyaan kriteria kedua kan menimbulkan pemahaman seketika
Karena, dia telah tahu jawabannya namun tak menyadarinya
Layaknya orang yang bertanya:
Di mana letak rumah seseorang padahal dia ada di rumah yang dicari

Kriteria ketiga akan memunculkan tanya yang mudah dijawab
Karena pertanyaannya jelas, mudah dimengerti dan laras
Seperti: orang yang tak tahu jalan ke sekolah
Akan bertanya jalan mana yang harus diambil untuk pergi ke sekolah

Kriteria terakhir adalah pertanyaan yang diajukan
Orang yang telah mengerti masalah yang ditanyakannya
Kadang bersifat ujian
yang diberikan dari orang yang lebih pandai dari kita

Dalam kriteria manakah kau berada?

Kau tentu dapat menebak tentang dirimu sendiri… 



Catatan:

Pada dasarnya, keempat pertanyaan itu senantiasa kita ajukan sesuai dengan situasi dan kondisi kita sendiri, jadi tidak ada seorangpun di dunia ini yang selalu seperti anak kecil kalau bertanya atau selalu menguji kalau bertanya. Sebab, banyak sekali hal yang kita tidak tahu sehingga saat bertanya pun kita tidak tahu apa yang kita tanyakan, dan sedikit sekali persoalan yang kita kuasai sehingga bisa menguji seseorang dengan pertanyaan kita.

Catatan dari Sebuah Renungan

Sebuah renungan yang tak terjawab dengan mudah dan tak terpahami begitu saja…
Karena sarat dengan pertentangan nilai yang ada…
Semakin banyak aku merenung serta berdiam diri tuk bersyukur, tuk berpikir dan mencari jawaban atas semua pertanyaan yang ada di dalam kepalaku, pikiranku, akalku dan hatiku…
Semakin aku ingin menyelami kebenaran tentang Tuhan Yang Maha Agung…
Semakin aku ingin menyelami hakekat tentang manusia itu sendiri…
Ternyata…
Kebenaran Sejati, Ilmu Ketuhanan Yang Hakiki seperti lubang tanpa dasar…
Seperti sebuah Black Hole di alam semesta,  menghisap semua yang ada  disekelilingnya dan tak membiarkan tuk keluar lagi…
Kebenaran Sejati, Ilmu Ketuhanan Yang Hakiki seperti lubang tanpa dasar…
Menghisap semua pengetahuan, pemahaman dan pengertianku…
Semakin banyak aku tahu, pahami dan mengerti…
Semakin aku menyelami apa yang telah ku dapatkan…
Maka… semakin aku tak tahu apa-apa…
semakin aku merasa bodoh, semakin banyak yang ku tak tahu, semakin banyak yang tak ku pahami serta tak ku mengerti 
semakin banyak yang tak terselami…
Ku merasakan kehampaan tanpa ujung,
meskipun aku tahu, pasti ada titik akhir dari semua yang kucari…
Aku

tak tahu berapa lama untuk mencapainya…
Hingga aku mengetahui, memahami dan mengerti
Kebenaran Sejati, Ketuhanan Yang Hakiki…
Aku tak tahu akankah aku mencapai hal itu sebelum ajalku menjelang…
Atau… tak akan pernah mencapai titik akhir dari pencarianku…
Ku tahu sesuatu yang sejati selalu sulit dan penuh perjuangan untuk mendapatkannya…
Karena itulah…
aku senantiasa mencari dan mencari tanpa henti, tanpa lelah, demi memperoleh apa yang kucari,
sampai kehampaan lenyap dari dalam diriku!
Walau

pun ku tahu…
tanpa bimbingan dari orang yang telah “putus ing ilmune”, mustahil memperoleh Ilmu Sejati, Kebenaran Sejati dan Ketuhanan Hakiki…
Kadang, apa yang kudapat melenceng dari garis Kebenaran Sejati,
sehingga aku tersesat dan membuat kesalahan…
Namun… saat kudapati jawaban yang sebenarnya…
aku makin memahami apa yang sesungguhnya telah kudapati…

Semua kadang tak terpahami begitu saja…
pemikiran yang mendalam dan berulang kali…
kadang tak jua memperoleh pemahaman dan pengertian yang tepat dan benar…
Semua ada jawabannya, namun ku kadang tetap tak bisa memahami dan mengerti…
Meskipun semua kemampuanku telah kugunakan secara maksimal…
Meskipun aku telah dibimbing oleh orang yang mengetahui dan mengerti apa yang kucari tersebut…

Bagaimanapun juga, untuk semua pembelajaran, pengalaman, pemahaman, pengertian, dan… semua hal yang telah kuperoleh dari aku kecil sampai saat ini, aku tetap bersyukur atas semua yang telah kudapat, kualami. 
Terimakasih, Ya Allah Yang Maha Segalanya…

Senin, 02 Mei 2011

Sebuah Renungan

Tuhan…
Sebagai manusia, aku selalu bertanya untuk apa Kau menciptakan alam semesta dan semua makhluk yang ada di dunia ini, sementara Diri-Mu Yang Teramat Agung sudah tak memerlukan apa pun?
Tuhanku Yang Maha Tahu… Aku selalu bertanya—meskipun dalam Kitab Suci terdapat uraian untuk apa makhluk Engkau ciptakan; Untuk apa manusia ada di bumi?
Apakah tujuan-Mu menciptakan manusia dan makhluk lainnya? Apakah hanya untuk menyembah-Mu dan mempelajari apapun yang ada di alam semesta yang luas ini, serta menantikan kehidupan setelah mati, sebagaimana yang telah Engkau janjikan dalam semua Kitab Suci para Nabi, para Rasul dan para Orang Suci?
Apakah Engkau Yang Maha Segalanya membutuhkan penyembahan, pengabdian? Untuk apa sebenarnya doa dan puji, sembah dan sujud itu?
Apakah untuk membuat manusia berahklak mulia, berbudi luhur, saling mengasihi, saling mengasuh, saling mengasah dalam kebaikan, menjaga keharuman nama dan pribadi sesamanya serta untuk kehidupan sesudah mati? Apakah hanya itu ya Tuhanku?
Tuhan… sepengetahuanku, berdoa dan bersujud adalah sebuah ritual, sebagai rasa syukur atas nikmat-Mu.
Namun, aku selalu bertanya, Tuluskah ritual itu dilakukan? Atau hanya sekedar menjalankan tradisi dan menjaga gengsi di depan orang lain? Jika hanya untuk sekedar menjalankan tradisi, dan menjaga gengsi di depan orang lain, lalu apa arti sembah sujud itu?
Mengapa aku bertanya? Karena ibadah (sesuai dengan agama dan keyakinan orang per orang) adalah cara untuk menjadi manusia yang berahklak mulia, dan menjadi tameng dari segala keinginan untuk berbuat dosa…
Tetapi, dalam kenyataannya? Semua omong kosong belaka ya, Tuhanku…
Berapa banyak manusia yang melakukan sembah-sujud dan berdoa pada-Mu setiap waktu? Ratusan, ribuan, jutaan bahkan mungkin milyaran. Tetapi… kenapa manusia yang melaksanakan ritual itu tetap saja tak terlindungi dari perbuatan tercela? Banyak manusia melaksanakan semua perintah-Mu… sekaligus melanggar larangan-Mu, Tuhanku Yang Maha Agung.
Tuhan, mengapa itu terjadi? Mengapa orang yang melakukan ibadah (shalat, kebaktian, misa, dll. sesuai dengan agama dan keyakinannya masing-masing) masih juga berbuat dosa (yang terang-terangan maupun yang secara tertutup) ?
Apakah ini terjadi karena untuk mendapatkan pengampunan dari-Mu cukup dengan bertaubat dan berjanji tidak mengulangi melanggar larangan-Mu?
Cukup membaca Istighfar maupun bersedekah (Islam), cukup melakukan pengakuan dan penebusan dosa (Kristen) dan entah ritual apalagi di agama lain yang ku tak tahu… serta berjanji tak akan mengulanginya lagi, lalu akan mendapatkan pengampunan dosa?
Pada kenyataannya, hanya sedikit yang benar-benar bertaubat, lebih banyak yang mengulangi berbuat dosa dan kembali melakukan ritual taubat untuk mendapatkan pengampunan-Mu.
Apakah semudah itu untuk mendapatkan pengampunan-Mu Ya Allah Yang Maha Pengampun?
Begitu mudahkah semua? Tanpa ada pertanggungjawaban lagi, tanpa harus pusing dengan beban dosa karena telah hilang semua dosa setelah melakukan ritual membuang dosa, ritual meminta pengampunan dari-Mu?
Ataukah aku yang begitu naif, begitu skeptis, begitu picik, begitu bodoh sehingga tak dapat menyelami kedalaman dan kesakralan ajaran yang ada tentang perintah dan larangan-Mu?
Saat aku bertanya pada orang lain, “Apakah tak ada pertanggung- jawaban dan konsekuensi atas semua perbuatan manusia, yang baik maupun yang buruk?”
Pasti akan dijawab bahwa, “Semua perbuatan pasti membawa konsekuensi dan tanggung jawab, mungkin kau bisa melihat dan merasakannya, mungkin juga tidak.”
 Tuhanku Yang Maha Mengetahui isi hati makhluk ciptaan-Nya, bagiku itu adalah jawaban standar, jawaban yang akan dijawab oleh setiap orang apabila ditanyakan hal tersebut.
Tak adakah jawaban yang lebih memuaskan dan memberi penerangan bagi jiwa yang bodoh ini?
Tuhan Yang Maha Suci, mengapa shalat, kebaktian, dan ritual keagamaan yang lainnya tetap saja susah tuk membawa manusia lepas dari perbuatan dosa—perbuatan yang merupakan dorongan dari dalam diri manusia itu sendiri karena dirinya lepas kendali?
Saat kutanyakan hal ini pada orang lain—yang mengerti tentang ajaran-Mu maupun yang hanya sekedar tahu, akan muncul jawaban, “Karena manusia kalah dengan bisikan setan, karena manusia kalah dengan bisikan hawa nafsunya sendiri. Karena dia lepas kontrol…” Dan masih banyak lagi jawaban yang serupa itu.
Namun, bagiku jawaban itu merupakan jawaban biasa yang secara tidak langsung memaklumi perbuatan yang salah, dan pada akhirnya… (akan) mengulangi kesalahan itu.
Mengapa manusia tetap saja melakukan kejahatan, keburukan, dosa, meskipun tahu bahwa itu salah?
Mengapa manusia selalu berkelit dengan mengatakan bahwa dia tergoda setan, bahwa dia khilaf, bahwa dia lepas kontrol?
Tuhan Yang Maha Pemberi Terang, jika demikian halnya, semua hal salah yang dilakukan manusia adalah hasil perbuatan makhluk lain (Setan), bukan perbuatannya sendiri? Begitu mudahkah mencari pembenaran sendiri?
Apakah semua perbuatan buruk itu bukan perbuatan orang itu sendiri? Mengapa harus mengatakan kalau perbuatan salah terjadi karena dia tergoda Setan?
Tuhanku Yang senantiasa melimpahkan nikmat-Mu pada seluruh umat-Mu, aku tahu, aku terlalu bodoh untuk memahami hal itu…
Tuhan Yang Maha Mendengar… sesungguhnya (bagiku) setan itu adalah diri manusia itu sendiri, karena dia terbawa oleh keinginannya yang liar dan bodoh! (terlepas dari pengertian bahwa Setan itu ada, tak terlihat dan tugasnya menggoda manusia tuk berbuat salah) .
Pada hakekatnya (dari apa yang kupelajari, kupahami, kurenungkan selama ini), semua perbuatan manusia selalu berasal dari manusia itu sendiri, dan selalu menuntut tanggung jawab yang sesuai dengan tindakan yang dilakukannya.
Bahwa, permohonan maaf, pengucapan Istighfar, pengakuan dosa, penebusan dosa dan hal/ritual lain yang bertujuan sama, tidak begitu saja menghapus dosa yang telah dilakukan, dan bisa mengulangi taubat agar diampuni dosanya saat manusia melakukan dosa lagi (baik dosa yang sama maupun dosa yang lainnya) .
Tak semudah itu taubat dilakukan, dan tak sesegera itu mendapat pengampunan dosa.
Pengampunan akan diberikan atau tidak kita tak kan pernah tahu sampai kita menjalani Hari Penghitungan. Yang kita tahu hanyalah reaksi orang di sekitar kita.
Karenanya, kesalahan, keburukan, kejahatan, kebodohan, hanya dapat dibetulkan, diselesaikan, diatasi oleh diri kita sendiri, bukan oleh orang lain. Orang lain hanya memberi tahu bahwa kita salah, berhasil tidaknya kita memperbaiki, tergantung dari usaha diri kita sendiri.
Demikian juga semua akibat perbuatan kita, harus kita sendiri yang mempertanggungjawabkannya (baik-buruknya hasil perbuatan kita akan berimbas kepada orang-orang terdekat kita, langsung maupun tidak langsung) .
Ritual memohon pengampunan, bertaubat, baru memberi makna saat kita benar-benar memohon ampun, bertaubat dan tetap tidak mengulangi keburukan yang telah kita lakukan.
Tuhanku, shalat, sembah dan sujud, kebaktian yang dilakukan manusia serta ibadah lainnya sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing, yang bertujuan membuat manusia berahklak mulia, ternyata tak membawa hasil seperti yang diharapkan, mengapa masih banyak saja yang berbuat salah (termasuk aku sendiri) ?
Apa arti semua itu, Ya Allah?
Bagiku, semua itu baru mempunyai arti, mempunyai makna, mempunyai pengaruh, saat melakukannya dengan sepenuh hati, sepenuh jiwa dan raga.
Ketika seluruh diri pribadi hadir dengan segenap ketulusan dan keiklasan, berserah diri, bersujud dan menyembah kehadirat-Mu Yang Maha Kudus Ya Ilahi…
Kala tak peduli akan omongan orang tentang apa yang kulakukan saat aku bersujud, bersyukur kehadapan-Mu Yang Maha Pemberi Ketentraman dan Kebahagiaan…
Hanya berpikir tuk bersyukur dan bersyukur, hanya berpikir untuk menyampaikan apa yang ada di kedalaman nurani kepada-Mu Yang Maha Waskita.
Dan tak boleh berhenti tuk tetap melakukan hal ini meskipun diriku tak bisa tuk sepenuhnya berpikir bahwa aku sedang bersujud, bersyukur, ke haribaan Yang Maha Tunggal… Karena, saat itu dilakukan… semakin jauh ku terperosok ke sesuatu yang salah!
Kontrol diri adalah dengan perenungan, dengan sembah sujud, dengan bersyukur, sekecil apapun bagian diri yang bersyukur…
Saat melakukannya dengan segenap kesadaran bahwa, semua ibadah yang dilakukan harus diimplementasikan di kehidupan nyata.
Bahwa, keburukan, kejahatan, serta sesuatu yang bertentangan dengan nilai-nilai humanisme dan Ketuhanan akan menghancurkan kehidupanku (manusia) sendiri.
Bahwa tugas manusia adalah mencari dan mengetahui hakekat mengapa dia diciptakan, mencari dan mengetahui makna dan hakekat doa, sembah-sujud, dan ibadah yang dilakukannya, mencari dan mengetahui hakekat Kebenaran Sejati, Ketuhanan Yang Hakiki, dan hakekat Allah Yang Maha Segalanya.
Karena itu, setelah aku beribadah, berdoa, bersujud, bersyukur atas semu nikmat-Nya, aku tak seharusnya bertindak konyol, bertindak bodoh yang pada akhirnya merugikan diriku sendiri maupun orang lain.
Meskipun pada kenyataannya, aku masih saja kesulitan tuk menjadi yang terbaik bagi diriku sendiri, dan kesulitan tuk menjalankan semua perintah-Mu dan menjauhi semua larangan-Mu…
Menjalankan semua perintah-Mu dan menjauhi segala larangan-Mu, teramat susah walau mudah diucapkan, Ya Allah… Ya Rabbi… benar-benar penuh perjuangan agar semua bisa dilakukan dengan sepenuh hati dan pantang menyerah, Ya Sang Khaliq…
Dan tak boleh berhenti begitu saja saat menemui halangan serta rintangan dalam menjalani semua ini agar apa yang kita yakini dan pahami bisa benar-benar tercapai.
Tuhanku Yang Maha Memahami… benarkah pemahamanku ini? Ataukah ini sesuatu yang salah? Ataukah… ada pemahaman yang lebih dalam lagi? Hanya ini kemampuanku tuk memahami hal itu… Aku terlalu bodoh untuk memahami lebih dalam lagi…