Entri yang Diunggulkan

Dahulu Mana, Telur dan Ayam?

Pertanyaan klasik dan ajeg yg jadi bahan debat tanpa ujung jika ngrembug bab Sangkan adalah... . . . . . Disit ndi endog karo pitik? (Dulu m...

Senin, 25 Agustus 2014

Pemimpin Sejati

Senajan wus tinakdir jadi Pemimpin, Ga perduli mau Kubu Jokowi-JK,
Kubu Prabowo-Hatta ataupun Kubu lainnya diluar itu, nek mung pada
padudon rebut bener, rebut kuasa agar aman posisi dan agendanya, terus
jadi lupa pada tugas dan kewajibannya pada rakyat, lupa memakmurkan
dan mensejahterakan rakyat, rakyat hanya jadi engkuk-engkukan, yang
diinget hanya ngeruk bandhane negara tuk kepentingan pribadi dan
golongannya, berarti belum Pemimpin Sejati.

Mending Pemimpine dikawal Paspampres akeh, naik mobil mewah anti
peluru dan keamanan beliau terjamin, tapi semua geraknya untuk
kepentingan rakyat, demi kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.
Tinimbang pengawalan minimal sing penting aman, pake mobil biasa, tapi
malah tidak mensejahterakan dan memakmurkan rakyat.

Penuhi harapan dan kebutuhan rakyat, maka Pemimpin akan disanjung,
dipuja dan dijaga oleh rakyat yang dipimpinnya.

Dan jika menyengsarakan rakyat, maka Pemimpin akan dihujat, dicaci dan
dimusuhi oleh rakyat yang dipimpinnya.


25 Agustus 2014
-Djati-

#Lakon

Kamis, 21 Agustus 2014

21 Agustus 2014

Hari ini, Kamis 21 Agustus 2014 akan menjadi sejarah bagi seluruh
rakyat Indonesia, bagi seluruh elemen bangsa dan negara kita, pendek
kata, akan menjadi catatan sejarah tuk NKRI tercinta berkaitan dengan
Pilpres, yang akan menjadi tonggak penentu ke depan kehidupan
berdemokrasi bagi seluruh rakyat, bangsa dan negara ini.

Hari ini, jam 11.00 WIB, DKPP yang diketuai Jimly Assidiqie (moga aja
g salah nulis, namane angel je...) akan membacakan keputusannya
terkait pelanggaran kode etik oleh KPU dalam pelaksanaan Pilpres.

Jika melanggar, maka para penyelenggara tersebut akan mendapatkan
sanksi dan hukuman dengan hukuman maksimal dipecat dari KPU, dan jika
tidak melanggar, maka KPU akan direhabilitasi-dipulihkan nama baiknya
oleh DKPP.

Itu peristiwa pertama.

Peristiwa kedua adalah pembacaan putusan MK-yang diketuai Hamdan
Zoelfa (moga g salah tulis y...) terkait gugatan Pilpres oleh Pasangan
Capres Cawapres No. 1, Prabowo-Hatta dengan tergugatnya KPU dan
Pasangan Capres Cawapres No. 2, Jokowi-JK sebagai pihak terkait.

Apapun keputusannya nanti, yang diharapkan adalah semua pihak legawa
dan tidak ada gejolak (tapi dengan melihat yang terjadi akhir-akhir
ini, kok pesimis y... Terlebih bagi yang tidak siap :-)).

Dan, apapun keputusan dan imbas dari keputusan tersebut, yang paling
diuntungkan adalah 'The Real King Maker' (siapa itu? Pasti dah
tahulah, apalagi kalau sering mengikuti berita politik, hehehe...).

Oh iya, menurut Daniel Sparinga, staf ahli Presiden, Presiden SBY akan
sesegera mungkin menemui Presiden terpilih sesuai keputusan MK nanti.
Langkah yang bagus! Jangan lupakan juga yang tidak terpilih agar
situasi tetap kondusif, Pak Presiden...

Yang terakhir, masyarakat sebenarnya sudah tidak peduli apapun
keputusannya nanti, kok...
Kenapa? Sebab masyarakat sudah sibuk dengan urusannya masing-masing
agar bisa tetap survive di kehidupan yang serba susah dan makin susah
saja...

Satu hal yang harus digarisbawahi adalah, jika keputusan ini
menimbulkan gejolak dan negara menjadi genting, yang jadi korban
adalah rakyat (selalu dan selalu...).

Maka, mari kita tunggu apa keputusan DKPP dan MK nanti, serta
bagaimana sikap pihak-pihak yang berperkara.

Semoga yang terbaik tuk rakyat, bangsa dan negara ini, tuk NKRI
tercinta di bulan Kemerdekaan.


21 Agustus 2014, 10:55

-Djati-

Kamis, 07 Agustus 2014

Membatasi Terbatasi

Ketahui dan pahamilah semua kekurangan dan keterbatasanmu, lalu
lakukan yang terbaik untuk meningkatkan kualitas dan kapasitasmu.

Dan jangan sekali-kali membatasi diri, apalagi sampai merasa yang
paling baik dan paling benar.

Jika itu kau lakukan, saat itu juga kau kan terbatasi.

Kualitas dan kapasitasmu tak akan pernah bisa kau maksimalkan.

Akibatnya, saat ada yang bisa melampauimu, kau akan terguncang dengan hebat.

Dengan mengetahui kekurangan serta batasanmu, maka tahu apa yang harus
kau lakukan untuk meningkatkan diri.

Dengan mengetahui kekurangan dan batasanmu, maka kau sudah memenangkan
setengah dari perang yang kau hadapi.


Renungan, 6 Mei 2014
-Djati-‪‪

Pitukonmu

Terlahir dengan 4 derajat: Hidup, Mati, Jodoh dan Rizqi
Akan seperti apa hidup dan kehidupan Manusia
Kembali pada pitukon (gerak dan usaha) manusia itu sendiri
Diam, berdoa dan hanya menunggu pemberian dari Langit tanpa ikhtiar?
Impian pasti tak kan pernah menjadi nyata!
Raihlah mimpi dengan usaha sekuat tenaga diiringi doa sepenuh jiwa

Sapira pikolehmu, gumantung marang sapira pitukonmu!


Catatan Diri, 2 Mei 2014
-Djati-‪

Minggu, 03 Agustus 2014

Titi Wanci

Jam berdetak pasti tanpa kompromi
Detik demi detik menjadi putaran waktu

Akankah jadi penonton, penggembira, cameo, figuran atau tokoh utama...

Antagonis ataukah protagonis peran yg dijalani?

Akankah siap atau tidak
Ketika tongkat estafet antar generasi
Kau terima dalam sejarah hidupmu?

Semua bergantung pada pilihan dan ikhtiarmu
Tuk mewujudkan pilihan hidupmu
Bukan pada orang lain, leluhurmu apalagi Tuhanmu!

Orangtua, guru dan sesepuh, hanya memberi dasar
Selanjutnya?
Terserah padamu!

Sih Gusti Kang Manitah tansah nyamadi marang kabeh tumindakmu
Ateges, apa kang denira upadi, iya apa kang disahake dening Kang Manitah!

-Djati-

#YenTumekaTitiWanciOraBisaSelak

Rabu, 30 Juli 2014

Polemik 1 Ramadhan dan 1 Syawal

Tek inget-inget, semenjak Pak Harto lengser, penentuan 1 Ramadhan dan
1 Syawal tiap tahunnya selalu menjadi polemik, bahkan bikin kacau di
masyarakat.

Kalangan ulama dan umaro seringkali berbeda pendapat dg alasan
masing-masing. Seringkali membuat situasi jd aneh saat dalam 1 wilayah
tdk sama 1 Syawalnya.

Yg di atas pada pancakara adu bener, yg di bawah pada ngremeng...

Nah, yg bikin heran dan jadi pertanyaan di hati adalah...
Kenapa seringkali penentuan 1 Ramadhan dan 1 Syawal berbeda, tetapi
untuk Idul Adha alias Idul Qurban sama, serentak ngikutin aturan dari
Arab Saudi?

Kenapa? Kenapa? Eh kenapa? Itu bisa terjadi?
Aneh beneeeeeeer...

Anyway busway... Juz jd pertanyaan thok...
Sebab jawabe juga muter-muter di 'itu-itu' saja...

Met berlebaran dan bersilaturahim y... :-)

-Djati, 3 Syawal 1435 H-

Selasa, 29 Juli 2014

Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1435 H

Waktu berlalu tiada henti
Catatan di kanan dan kiri
Makin menumpuk tiada henti
Timbangan pun makin berat kiri

Saat hati makin terkunci
Kala jiwa makin gelap, sunyi
Penuh khilah dan caci maki
Penerang jiwa pun hampir mati

Ijinkan ku tuk berkata
Ijinkan ku tuk menyampaikan
Ijinkan ku tuk mengucapkan
Sebaris kata seuntai doa
Di hari nan penuh berkah ini

Selamat Idul Fitri 1435 H
Minal aidin wal faidzin
Mohon maaf lahir dan batin
Atas semua salah dan khilaf
Atas semua kata dan perilaku
Yang tak berkenan di hati
Yang membuat duka dan kecewa
Yang bangkitkan amarah

Agar ringan kaki ini melangkah
Agar damai hati ini jalani hidup

Semoga kita semua tak terkecuali
Senantiasa mendapat limpahan Sih
Sehingga tansah pinaringan rahayu
Ing samudayanipun
Amin amin amin Ya Rabbal 'Alamin

-Djati, 29 Juli 2014-2 Syawal 1435 H-

Note:
Meski rada telat, lebih baik daripada tidak sama sekali. Dan aku pun tahu, sesungguhnya meminta maaf bisa dilakukan kapan pun jika kita tahu dan menyadari bahwa telah salah dan khilaf serta tidak mengulangi lagi hal-hal yg tidak baik.

Namun, Idul Fitri adalah Hari Penuh Berkah. Meskipun ku tak menang dalam pendadaran satu bulan penuh di bulan Ramadhan, setidaknya hal ini menjadi bahan renungan serta introspeksi diri agar bisa lebih baik lagi.

Minggu, 08 Juni 2014

Siapakah Presiden Indonesia Selanjutnya, Prabowo Ataukah Jokowi?

Akhir-akhir ini, kalau ketemu temen atau saudara atau para sepuh, di
antara gayengnya perbincangan, ada 1 pertanyaan wajib yang terlontar
dan bikin aku senyum-senyum...

"Besok milih siapa, Mas?"
Dan kalau ga segera dijawab, bakal disusul kata-kata, "Kalau aku milih
Jokowi (jika dia pendukung Jokowi)/ Prabowo (jika dia pendukung
Prabowo)."

Nah, ada satu fenomena yang tambah bikin senyum simpul saat ku tanya
apa pilihannya di PILEG kemaren.

Apa itu?

Ternyata, Partai yang dipilih pas PILEG belum tentu sinkron dengan
figur yang dipilih saat PILPRES besok.

Seorang teman yang jualan di pasar bilang, "Aku ngesuk milih Jokowi,
Mas. Sampeyan pada karo aku ora?"
Aku hanya senyum lalu tanya, "Lha wingi milihe apa?"
Jawabane bikin kaget, "Wingi milih Gerindra sabab caleg-e wong daerahku, Mas."
Penasaran, ku tanya lagi, "Deneng ngesuk milihe Jokowi?"
Jawabnya adalah... "Sing penting tanggaku wis dadi, mlebu Jakarta
(maksudnya DPR Pusat), lha nek ngesuk milih Jokowi, sing pada karo
aku, sing ngerteni rasane aku, sing merakyat, gelem blusukan, ora
mbedakna wong. Nek Prabowo oralah, kaya kae... Ngerti dewek mbok?
Pokoke, Jokowi! Aja klalen ya, Mas..."
Dan aku pun berlalu, senyum sambil mikir... "Bisa gitu ya?"

Eh, ga lama berselang, terjadi hal yang mirip.

Pas ngobrol ma temen, tiba-tiba temen nyeletuk... "Mas, kayane
njenengan milih Jokowi ya? Ngapurane ya... Nyong beda karo njenengan.
Najan nyong PDI (maksudnya PDIP) tulen, ning milihe Prabowo ora milih
Jokowi."
Sambil senyum, aku tanya, "Kok gitu?"
Sambil senyum dia menjawab, "Sebab Prabowo tegas. Gara-gara sing siki
ora tegas (maksudnya Presiden SBY), nang ndi-ndi akeh wong ala, preman
pada nyruag, ora duwe isin wani karo sapa bae. Nek Jokowi sing
klemad-klemed dadi, arep kaya apa? Wis ben, Jokowi ngrampungna tugase
nang Jakarta dadi Gupernur, ben mateng, tambah pengalaman dadi go
sangu mbesuk (PILPRES 2014)."
Lengkap bener penjelasane.

Lalu, dia nanya, "Nek njenengan priben, Mas?"
Aku jawab, "Aku milih sing pedomane 3 hal, Merah Putih, Pancasila,
Bhinneka Tunggal Ika. Dene mengkone pilihanku pada utawa beda karo
njenengan, ora masalah, sabab kabeh nduweni ner dewek-dewek sesuai ati
nuranine. Sing penting tetep guyub lan rukun."
"Nah, cocog nek kaya kuwe... Nyatane, sapapun sing menang, sing bakal
dadi Presiden Indonesia," gitu kata temenku.
"Iya, kudu disengkuyung sapapun sing kepilih mengkone," kataku.

Dari 2 kejadian di atas, maka... Penentu pemenang Pilpres 2014 bukan
berdasarkan banyak/sedikitnya partai pendukung, tetapi figur yang
diusung sebagai Capres dan Cawapres, partai pendukung faktor kedua.

Kenapa?

Sebab, beberapa teman yang tadinya antusias akan ikut memilih karena
Capresnya cocok di hati, segera mengurungkan niatnya saat tahu siapa
yang menjadi Cawapresnya (ga cocok ma Cawapresnya), sedangkan memilih
Capres satunya setali tiga uang dengan yang pertama. Akhirnya
memutuskan tuk golput.

Secara umum ada 3 hal yang jadi penentu tuk memilih:
1. Ingin pemimpin tegas, memilih Prabowo.
2. Ingin pemimpin yang merakyat, akan memilih Jokowi.
3. Yang tidak cocok pada kedua pasangan Capres-Cawapres (apapun alasan
mereka), akan memilih untuk Golput.

Maka, jika berpatokan pada 3 hal tersebut, saat seseorang sudah punya
ner tuk memilih, atau bersikap, akan sangat sulit untuk diubah. Sebab
sudah matok bangkrung pada pilihan/sikapnya.
Kecuali, jika ada sesuatu yang fundamental terjadi sehingga bisa
merubah pendirian mereka.

Nah, untuk Swing Voters, tinggal bagaimana usaha para Capres-Cawapres
beserta Timses, para pendukung dan relawannya agar Swing Voters mau
memilih sesuai dengan keinginan mereka.

Maka, siapakah yang akan terpilih menjadi Presiden berikutnya, sangat
tergantung pada rakyat dan gerak para Capres-Cawapres, Timses dan
pendukung serta relawan masing-masing.

Siapapun nanti yang terpilih menjadi Presiden, semoga adalah yang
terbaik untuk rakyat, bangsa dan negara Indonesia, yang senantiasa
berpedoman pada Merah Putih, Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika.


Djati, 7 Juni 2014, 15:20

Jumat, 02 Mei 2014

AKU, KAU, KITA... SATU!!!

Bulan sabit meredup dan hilang di balik awan
Sang Jaka Belek terengah berpendar merah
Lintang Pari pun menghilang tak mau tunjukkan jalan
Gemintang menghilang ditelan rintik hujan...

Gerah... Peluk raga...
Resah... Dekap jiwa...
Lelah... Membuncah...
Letih... Membuih...
Asa berderak... Mulut berteriak...

AKU, KAU, KITA... SATU!!!

Ujung demi ujung bertaut, erat menyatu...
Rachsa demi rachsa berpadu...
Tarian jiwa lembut merajut cinta...
Nyanyian suksma syahdu penuh rindu...

Janji hati telah terucap tuk wujudkan asa
Lepas semua beban, hilang semua letih...
Berpijar, meletup sirnakan ragu di dada

Rintik hujan menjadi saksi
Ketika jiwa-jiwa berpadu...
Saat benih-benih ditanam kembali...
Tatkala langkah mantap berderap...
Di kala situasi serba tak pasti...
Demi senyum-senyum penuh kasih...
Untuk tawa-tawa penuh bahagia...

Untukmu, bakti ini... _/\_


(Djati, 02052014, 22:37)

Kamis, 02 Januari 2014

Pemimpin, Negarawan atau Tukang Ngisep Getihing Rakyat?

Seorang pemimpin yg benar-benar negarawan, pasti akan sangat dicintai,
dijaga dan dilindungi oleh rakyatnya, bahkan senantiasa didoakan dg
tulus ikhlas agar senantiasa pinaringan rahayu.

Titikane apa?
Tanyakanlah pada rakyat yg dipimpinnya tentang kehidupan mereka!!!

Pasti akan dijawab sambil senyum sumringah betapa senang kehidupan
rakyatnya, biasanya juga ditutup dengan doa yang baik utk Sang
Pemimpin.

Lha kalau jawabane malah dengan cemberut, prihatin, berkeluh kesah
betapa susah hidupnya, bahkan malah kelah, protes, caci maki dan
sumpah serapah...

Waaa... Itu pasti dipimpin oleh Pemimpin yg seneng ngisep getihing
rakyat, dadi buta rambut geni, buta ijo, yuyu rumpung, jurang grawah,
Padas Gempal lan sapanunggalane.

Lha, nek aku ditanya, "Pemimpin kita saat ini gimana?"
Kan ku jawab, "Tanyakanlah ke dirimu sendiri, jawablah setelah
memperhatikan kehidupanmu, keluargamu, dan masyarakat sekitarmu, lalu
telaah dengan padhanging ati, pikir kang wening, banjur rasakaken karo
rasa rachsaning pribadhimu, iya rasa kamanungsanmu."
Jawabanku sama dengan jawaban yg muncul di hati dan pikiranmu, sebab
rasa rachsaning manungsa iya rasa kamanungsan kabeh manungsa pasti
pada.


#RHN-041013byDjati

Rabu, 11 Desember 2013

KEBERSAMAAN PENUH CINTA

Pada akhirnya, yang bisa mempersatukan manusia dalam ikatan yang erat dan tidak terkotak-kotak adalah rasa kemanusiaan (rasa rachsaning manungsa), bukan Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan.

SARA yg ada pada akhirnya membuat kita bercerai-berai sebab menganggap pihak lain tdk sebaik kita, agar mereka baik maka mereka harus sama dengan kita. Jadine terkotak-kotak sesuai anggapan masing-masing.

Tapi, saat kita berbicara sebagai manusia, jika yang dibicarakan adalah tentang manusia secara utuh, yang memiliki rasa kemanusiaan-rasa rachsaning manungsa, maka yg tadinya berbeda akan memiliki kesamaan. Kalau sakit ya sambat atau nangis, senang bin bungah nggih mesem atau tertawa, lan sapiturute....

Kesamaan ini juga membuktikan bahwa sesungguhnya kita semua diciptakan oleh Sang Maha Pencipta yg sama.

Dan satu hal lagi yg membuat manusia bisa bersatu, yg merupakan anugerah terbesar dari Sang Maha Pencipta utk ciptaan-Nya adalah Cinta.

Semua pasti memiliki cinta, baik yang universal maupun yg personal.

Maka rasa terdalam manusia ketika tersentuh sisi kemanusiaannya, rumongsa diuwongake, dilenggahaken kamanugsane, yg akan timbul, tumbuh dan berkembang adalah Cinta.

Mengapa? Sebab kita, dan alam semesta raya ini diciptakan dg penuh cinta oleh Gusti Ingkang Maha Wikan. Jika tdk dg cinta, bagaimana mungkin semua bisa begitu teratur dan seimbang dalam segala sesuatunya?

Bukankah jika rasa cinta itu tumbuh di hati kita, pasti kita akan melakukan yang terbaik yang dapat kita lakukan agar apa yang kita cintai tetap terjaga dg baik?

Bhinneka Tunggal Ika tan hana dharma mangrwa

#SebuahRenunganPenuhCintaMapagSuran
-Djati, 4 November 2013

Lagu Cinta

Lagu Cinta mengalun lembut di  kedalaman jiwa
Saat tatap mata bertemu dan hati b'bicara tentang kasih
Tiada kata t'ucap dan waktu seakan b'henti

Detak jantung dua insan yg b'padu dlm jalinan cinta
Pelan, satu satu dan begitu menghentak dada...
JDUGGG... JDUGGG... JDUGGG...

Saat cinta b'semi di taman hati
Jiwa bertaut erat mengikat janji
Dunia terasa begitu indah
Sayap cinta begitu erat memeluk...
Hangat... Penuh bahagia...

Saat rindu mencengkeram jiwa...
Sembilu cinta toreh hati...
Pedih... Sepi...
Dingin menusuk nurani...

Genggam erat tanganku, wahai Kekasih...
Peluk diriku dg hangat kasihmu, duhai Pujaan Hati...
Agar hilang duka lara...
Agar lenyap rindu nan sepi...

I love U, My Queen

#EdisiKangen, SM 061105
Djati, 06 November 2013

Kekuatan Cinta

Cinta adalah anugerah teragung dari Sang Pencipta untuk ciptaan-Nya terutama manusia, karena itu juga cinta bisa menjadi sumber kekuatan terbesar untuk membangun dan pada sisi lain menjadi sumber kekuatan terbesar untuk menghancurkan manusia.

Sejarah telah membuktikan, Kekuatan Cinta mampu membuat peradaban berkembang sedemikian maju, penuh ketenteraman dan kebahagiaan.

Sejarah pula yang membuktikan pada kita, betapa dahsyat Kekuatan Cinta saat menjadi penyebar kehancuran umat manusia yang penuh kesengsaraan dan kekejian.

-Djati, 29 Oktober 2013-

Senyum Terindah Penuh Cinta

Senyum tercantik, terindah dan amat menawan di hati adalah senyum penuh kebahagian nan tulus dari hati terdalam yg penuh welas asih. Pasti senyum itu disertai tatapan penuh bahagia. Ah, sungguh sulit tuk menggambarkan perpaduan dari senyum terindah dan tatapan penuh bahagia itu...

Dan saat ditanyakan pada yg memberi senyum itu, dia seringkali g ngeh, g paham bahwa senyumnya benar-benar indah bikin hati berbunga-bunga, terbang melayang dan... entah bagaimana, waktu seakan terhenti begitu saja... Padahal senyum itu, tatapan itu... Hanya sekejapan mata...

Meskipun hanya sekejap mata... Jangan pernah anggap enteng efeknya! Amat sangat besar! Senyum itu, tatapan itu, semua moment yg ada akan terpatri di kedalaman jiwa, terpahat begitu dalam di hati dan menjadi sweet memories yg tak kan terlupakan sampai kapanpun, yg tak kan lekang oleh waktu. Yang kan membuat kita tersenyum bahagia kala mengingatnya.

Senyum dan tatapan macam ini, yg sering membuat seseorang jatuh cinta pada pandangan pertama, dan utk yg dah cinta pasti menjadi makin dalam cintanya. Mengapa? Sebab saat senyum terindah muncul, hatilah yg berbicara, kesentrum dengan tegangan yg sangat tinggi. Membuat bahagia menumbuhkan benih cinta yg berbunga rindu.

Nah, kalau itu telah terjadi... Pasti akan makin merindukan senyum nan penuh keindahan dan kebahagiaan ini. Maka, apapun akan dilakukan demi mendapatkannya, meskipun harus berkorban teramat berat.

Jika cinta yang ada bersambut dan terjalin erat, dengan membuatnya bahagia (perlu perjuangan yg amat berat dg seluruh kemampuan dan kapasitas masing-masing), sweet memories ini akan terulang dan terulang...

Nah, kalau cintanya bertepuk sebelah tangan atau cinta itu adalah cinta terlarang? Wah, sangatlah besar pengorbanan yg dibutuhkan. Sebab harus bisa membuat dia bahagia meskipun kebahagiaannya adalah bersama orang lain, bukan dengan kita.

Jika senyum terindah telah benar-benar menumbuhkan cinta yg tulus, maka meskipun menyakitkan melihatnya bahagia bersama orang lain, itu adalah kebahagiaan kita juga.
Dari sinilah ungkapan,
"Cinta tak harus memiliki." Yang menjadikan ironi dalam kehidupan.

# SweetMemoriesWillNotForgotten
-Djati, 22 Oktober 2013

Kebersamaan

Kalau semua sudah seiya sekata,
satu tujuan,
bersama dan bahu membahu,
mau melaksanakan tugas
dan kewajiban masing-masing
sesuai dg SOP yg ada serta kemampuan dan kapasitasnya
tanpa adanya kecemburuan, rasa paling benar, paling pintar,
tanpa adanya keegoisan atau rasa apapun yg setara dg itu...

Maka pekerjaan yg berat pun akan menjadi ringan,
yg seakan tak akan terselesaikan pasti bisa diselesaikan dg baik.

Ringan sama dijinjing berat sama dipikul.

Berbeda bukan berarti saling membedakan, saling membenci dan memusuhi...

Tetapi utk saling melengkapi dan mendukung demi kebaikan bersama.

Bhinneka Tunggal Ika tan hana dharma mangrwa


-Djati, 2 November 2013

C I N T A

Apa yang membuat semarak hidup?

Apa yang membuat rusuh hidup?
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
C I N T A ! ! ! ! ! ! !


#EdisiCinta
-Djati, 31 Oktober 2013

PANGGUGAH

Saatnya berdamai dan memaafkan,
agar semua luka nan perih terobati sempurna,
agar semua beban di dada terangkat seluruhnya.

Yang telah berlalu jadilah hikmah tuk melangkah ke depan,
merajut kembali asa dan mimpi yg sempat terberai...

Semua menjadi bekal,
semua menjadi pondasi nan kuat
dan teguh sentosa
agar kokoh dalam hadapi hidup.

Akan bagaimana kedepannya,
kabeh gumantung marang sapira pitukonku...

Aja ngasi agawe kucem asmane wong tuwa lan leluhur,
ja ngasi gawe nistane awake dewe,
aja ngasi agawe isin anak putu...
Amarga wus ninggal laku kaluhuran,
wus ninggal welas asih
amung mburu materi...

Tetep eling lan waspada, uripa kang prasaja.



#Panggugah, 151013-15.30
-Djati-

PAWELING

"Ndra, tek elingna ya... Materi pancen penting, wong urip butuh
materi. Tapi, kaluhuran lan welas asih tetep utama."

Paweling yang singkat, tapi sarat makna mendalam. Untuk mencukupi
hidupnya, kita-manusia membutuhkan materi baik berupa pangan, sandang
maupun papan. Dan ada satu hal lagi yang tak kalah pentingnya, yaitu
UANG.

Sebab jika memiliki uang kita bisa mendapatkan apapun yang kita
butuhkan, semakin banyak uang kita maka semakin banyak pula yang bisa
kita dapatkan.

Dewasa ini, ukuran sukses tidaknya seseorang lebih banyak dilihat dari
seberapa banyak materi yang dia punyai. Makin kaya raya seseorang
makin sukseslah dia. Tidak perduli jalan apa yang telah ditempuh
olehnya, yang penting berlimpah materi.

Bahkan, seandainya dia berkelakuan buruk pun masih terbuka celah tuk
membeli aturan dan perangkat atau petugas (oknum) yang berusaha
menegakkan peraturan. Terkadang, meski tetap ngrundel, orang lain
masih memberi toleransi atas sikapnya yg buruk.

Hal ini berbeda dengan orang miskin yang tak berlimpah materi.

So, paweling di atas bermaksud mengingatkan saya agar dalam mencari
materi untuk mencukupi hidup keluarga jangan sampai menghalalkan
segala macam cara bahkan sampai lupa pada laku kaluhuran yaitu
perilaku yang tidak nerak tatanan masyarakat dan negara serta tidak
melanggar nilai-nilai kemanusiaan dan Ketuhanan, serta senantiasa
penuh welas asih dalam setiap gerak hidup saya dan keluarga.

Untuk apa materi berjibun, rumah indah macam istana megah dan mewah,
harta benda melimpah ruah jika perilaku kita tidak lebih baik dari
hewan, bahkan lebih buruk?

Bukan kebahagiaan dan ketenteraman yang didapat, tiada ketenangan dan
senantiasa kemrungsung juga khawatir jika harta kita berkurang. Dan
adalah hal yang pasti, jika harta itu di dapat dengan jalan melanggar
kaluhuran, jauh dari welas asih, tidak akan bisa menikmati harta yang
ada, keluarga morat-marit dan terkena sakit yang susah tuk
disembuhkan.

Mengapa? Sebab harta itu didapat dari hal yang buruk, tentu pada
akhirnya akan membawa akibat buruk.

Berbeda dengan materi/harta yang didapat dengan jalan yang
baik-meskipun lebih lama dan mungkin hasil yang didapat tak sebanyak
jika kita ngiwung, harta itu akan membawa berkah bagi kita sekeluarga
serta orang-orang di sekitar kita. Sebab, seberapapun yang didapat
pasti akan kita syukuri dan entah bagaimana alhamdulillah bisa
mencukupi kebutuhan hidup yang ada.

Kita juga merasa tenteram dan bahagia dengan materi yang telah
didapat, tidak merasa was-was akan terjadi apa-apa dengan diri,
keluarga dan materi yang telah kita dapat. Sebab, kita benar-benar
tahu dan yakin bahwa itu didapat dengan cara yang baik.


Maka, jangan sampai memburu materi tapi lupa pada kaluhuran dan welas
asih. Sebab, apapun yang kita lakukan tuk mendapatkan materi itu, juga
akan berimbas langsung/langsung pada keluarga dan anak turun kita.

Jika kita tidak mau mpopok tai ke keluarga kita dan membuat susah
serta sengsara anak turun kita, maka carilah materi dengan baik jangan
nerak kaluhuran dan senantiasa welas asih pada siapapun. Insya Allah
berkah adanya.



#Paweling151013-10.15
-Djati-

Jumat, 06 Desember 2013

Ingin Tahu

Sifat Ingin Tahu adalah hal yang wajar, tetapi jangan diperturutkan
keingintahuan itu tanpa kontrol, harus empan papan. Jangan sampai asal
ada hp nggletak langsung diambil lalu membuka data yg ada, dan atau
jika ada dokumen (meskipun hanya dokumen biasa/remeh) dibuka tanpa
ijin. Lha kalau ada data penting yg multi tafsir padahal kita tdk tahu
pangkal dan ujungnya dari dokumen itu, apa ora mbanda kalani? Y, kl yg
punya terima... Kalau g? Berabe jadinya.
Meskipun hal ini juga bisa terjadi karena keteledoran yang punya
hp/data. Asal taruh karena merasa aman dan yang ada di tempat itu bisa
dipercaya (pikirnya begitu).

jika ingin tahu ini bisa empan papan, tdk akan berani buka data tanpa
ijin sebab ngrumangsani jika datanya sendiri dibuka orang lain tanpa
ijin, dia juga tidak terima, akan menjadi hal yang baik. Hal-hal yang
tidak semestinya tidak akan terjadi.

Meski sekedar iseng, keingintahuan seseorang jika tidak empan papan
akan menjadi bumerang. Sebab, efek dari keingintahuan yang tak
terkontrol adalah tidak akan dipercaya. Tidak akan ada orang yg berani
mempercayai orang yang dengan seenaknya membuka dokumen (apapun
dokumen itu) tanpa seijin yang punya.

Selanjutnya, tentu tidak akan ada yg mau mengajak bicara serius,
penting apalagi rahasia.

Dan entah bagaimana, pasangan sifat ingin tahu yg lepas kendali adalah
mudah membuka apa yang dia ketahui meski hal amat penting bahkan amat
rahasia (ngember gitu lho...) pada pihak lain, terlebih lagi jika ada
iming-imingnya.

Apa jadinya jika jadi kurir, malah membuka sendiri apa yg seharusnya
hanya dibuka oleh yang berhak, lalu menggunakan info yang didapat
untuk hal-hal yang bukan semestinya? Wah... Pasti jadi ruame sekali
dan bisa menjadi awal pertikaian yang besar. Orang Jawa bilang,
"Kriwikan dadi grojogan."

Jadi, meskipun terlihat biasa dan remeh, sifat ingin tahu jika tidak
empan papan akan menjadi sesuatu yg berakibat buruk bahkan sangat
fatal.


NB: pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan juga dari rasa ingin tahu.
So, jika ingin tahu dikelola dengan baik akan sangat bermanfaat bagi
kehidupan kita.



#EmpanPapan21102013
-Djati-

Kesehatan Yang Berbalik Arah

Apakah, "Kesehatan Yang
Berbalik Arah," itu?

Kesehatan yg berbalik arah adalah, kondisi kesehatan pada orang yg
sedang sakit/pasien ketika memperoleh perawatan/penanganan medis atau
alternatif (herbal, pijat atau terapi alternatif lainnya) terlihat dan
terasa bertambah sakit/parah, makin tidak nyaman, tetapi jika
dilakukan observasi keseluruhan dlm jangka waktu tertentu, ternyata
ada hasil yg signifikan antara sebelum dan sesudah mendapatkan terapi.

Hal ini bisa terjadi selama 3-7 hari, atau utk kasus yg berat 1-3
bulan awal seakan tdk ada perkembangan membaik karena proses
recovery-nya berjalan amat lambat.

Tentunya, terapi seperti ini harus dilakukan dan diawasi terus menerus
oleh ahlinya, baik secara medis (jika terapi medis) maupun alternatif
(jika terapi alternatif) bahkan gabungan medis dan alternatif agar
tidak terjadi kesalahan dalam penanganan disertai dengan adanya
komunikasi yg intens antara yg memberi terapi dg pasien/pihak keluarga
pasien.

Sehingga bisa diperoleh hasil yg bagus, memuaskan, sehingga kesehatan
pasien benar-benar berangsur pulih sebagaimana mestinya.


10 Oktober 2013
-Djati-