Duluuu... Jamanku kecil, sering mendengar para orangtua berkata pada anaknya tentang Sembur, Tutur dan Uwur. Bahkan seringkali, Sang Anak diperintahkan agar meminta Sembur dan Tutur pada pinisepuh, sesepuh, yang dituakan di daerah setempat yang jadi pepunden setempat.
Sedangkan Uwur, biasanya tidak dibicarakan di muka umum, tapi secara pribadhi antara Orang Tua dan Anak.
Dewasa ini, ketiga kata tersebut sudah jarang terdengar. Hanya pada komunitas/kalangan masyarakat Jawa tertentu saja yang masih menggunakannya pada saat Anak-anak mereka menjelang dewasa dan atau akan merantau baik untuk belajar diluar daerah maupun bekerja.
Ketiga kata tersebut sekarang sering diringkas menjadi 'Sangu saka wongtua' (bekal dari orangtua) yang jika dirinci tetap 3 hal. Doa, petunjuk dan uang tuk bekal awal mandiri.
Tentunya, ini tetap sesuai dengan Sembur, Tutur lan Uwur. Sebab maknanya sama.
Sembur adalah donga pangestu inggih doa restu dari orangtua atau sesepuh atau pepunden utk para putra wayah alias anak cucu agar senantiasa diberi kelancaran, keselamatan, kesuksesan yang penuh rahmat dan berkah Gusti Allah (tansah ingesihan dening Gusti, pinaringan rahayu widodo basuki raharja ing samudayanipun).
Tutur adalah petunjuk dan atau arahan, piwulang, pelajaran, tuntunan dari orangtua, sesepuh, dan atau pepunden pada anak cucu bagaimana langkah terbaik untuk mencapai cita-cita sesuai dengan minat, kemampuan dan kapasitas anak cucu, sehingga bisa mrantasi gawe, bisa makaryo dg baik dan memperoleh kesuksesan kang berkah.
Uwur adalah pemberian harta benda dari orangtua, sesepuh dan atau pepunden untuk bekal anak cucu dalam menjalani hidup dengan harapan bisa membuat anak cucu urip kepenak.
Untuk yang benar-benar mampu, ketiga hal itu akan diberikan sendiri oleh orangtua pada anaknya. Sedangkan secara umum, Orangtua hanya akan memberikan 1 atau 2 hal dan untuk melengkapinya, akan menyuruh Sang Anak untuk meminta pada pinisepuh, tokoh atau pepunden setempat.
Bahkan, lebih sering para orangtua hanya berkata, "Tek sangoni donga slamet, ben tansah slamet saparan-paran (ku bekali doa selamat, agar senantiasa selamat dimanapun)."
Begitu sederhana, namun memiliki makna yang dalam. Tentang bagaimana pengaruh dari doa tersebut dan atau Sembur, Tutur lan Uwur pada perjalanan hidup Sang Anak, sangat tergantung dari iguh pratikele, usaha dan ikhtiar Sang Anak dalam menjalani hidupnya.
Kebumen, 28 Mei 2015
-Dati-
Gendhu-gendhu rasa, nguda rasa ben ra dadi pikiran, mikir ben ora asal ngrasakna. Sebuah refleksi perjalanan hidup
Entri yang Diunggulkan
Dahulu Mana, Telur dan Ayam?
Pertanyaan klasik dan ajeg yg jadi bahan debat tanpa ujung jika ngrembug bab Sangkan adalah... . . . . . Disit ndi endog karo pitik? (Dulu m...
Kamis, 18 Juni 2015
Sembur, Tutur lan Uwur
Awal Ramadhan Tahun Ini Terasa Berbeda
Apa yg berbeda antara puasa hari pertama tahun ini dengan tahun lalu?
Suara corong mushallah dan masjid.
Beda?
Ya!
Tahun lalu, tadarusan mpe lewat tengah malem pake corong, jam 2-2.30an dah mulai rame mbangunin sahur diselingi qiraah mpe saat imsyak dilanjut adzan dan iqamat Shalat Subuh.
Tahun ini? Tadarusan jam 22.30an dah selesai, jam 3an baru mulai mbangunin sahur itu pun g sekenceng dulu dan hanya sesekali, cenderung sepi, hampir g ada selingan qiraah sampai tiba waktu imsyak. Setelah itu, baru qiraah, puji-pujian dilanjut adzan dan iqamat Shalat Subuh rame berkumandang.
Rupanya perkataan Pak Wapres, Pak Menteri Agama diikuti oleh para takmir mushallah dan masjid di daerahku. Entah di tempat lain. (Setidaknya untuk hari pertama Ramadhan tahun ini, hari berikutnya aku belum tahu).
Apakah mengurangi bobot bulan Ramadhan?
G kok...
Suasana yg cenderung sepi malah bikin hati jadi lebih tertata dan bisa lebih meresapi makna Ramadhan itu sendiri, palagi saat dengar istri membaca beberapa surat pendek ditutup Ayat Kursi... Maknyeees... Tu bagiku, entah bagi orang lain. Mungkin ini ku rasa karena aku g suka rame-rame (maaf, bising), semadya saja plus hawa malam yang dingin semingguan ini mpe kalau pagi pedhut mengambang pekat di atas desa dan persawahan.
Tu yang membuatku merasa Awal Ramadhan ini berbeda dengan tahun lalu, dari suasana lahiriah nembus ke batiniah.
Tahap akhir dari setiap Ramadhan lah yang sebenarnya akan berbeda atau sama dengan tahun-tahun sebelumnya.
Akankah hanya mendapat lapar dan dahaga tanpa ada perubahan pada perilaku menuju akhlak mulia, ataukah benar-benar berbeda dari sebelumnya? Bukan hanya bisa menahan lapar dan dahaga, akan tetapi juga benar-benar memperbaiki diri dan perilaku menuju akhlak mulia (meskipun seharusnya, tanpa ibadah Ramadhan pun hal ini harus tetap dilakukan), sehingga pada saat Idul Fitri benar-benar kembali Fitri?
Jujur saja, inilah tahap terberat dari Ramadhan itu sendiri.
Bisakah benar-benar mbengkas hawa nafsu ataukah hanya sekedar menjadi ritual rutin tanpa makna?
Jawabnya kembali pada diri kita sendiri dalam menjalani Ramadhan tahun ini dan tahun-tahun yang akan datang.
Selamat menjalani Ibadah Puasa Ramadhan dan ibadah lainnya tuk mengisi bulan penuh berkah ini bagi yang menjalani. Semoga memberi nikmat penuh berkah bagi kita semua, benar-benar menurunkan rahmat bagi seluruh alam semesta seisi. Amin amin amin Ya Rabbal 'Alamin.
Kamis, 18 Juni 2015
1 Ramadhan 1436 H
-Djati-
Kamis, 16 April 2015
Move On!!!
Sekali lagi...
Sing penting Kenyataan-e!
So, memiliki asa dan mimpi pun harus direalisasikan dengan usaha
sepenuh jiwa dan raga, dengan kebulatan tekad dan pantang menyerah
dalam menghadapi semua ujian dan hambatan yang ada.
Harus realistis, sehingga bisa mengambil langkah penyesuaian yang
cepat, tepat dan efektif dalam menghadapi segala sesuatunya, terutama
yang diluardugaan.
Kebumen, 16 April 2015
-Djati-
Sing penting Kenyataan-e!
So, memiliki asa dan mimpi pun harus direalisasikan dengan usaha
sepenuh jiwa dan raga, dengan kebulatan tekad dan pantang menyerah
dalam menghadapi semua ujian dan hambatan yang ada.
Harus realistis, sehingga bisa mengambil langkah penyesuaian yang
cepat, tepat dan efektif dalam menghadapi segala sesuatunya, terutama
yang diluardugaan.
Kebumen, 16 April 2015
-Djati-
Kayuwangi Semi Kembali
Selagi pohon nan rimbun itu diterpa badai
Kali ini, kayu nan wangi itu bersemi kembali...
Dan dunia pun makin ramai dengan obah mosiknya
Satu pertanyaan timbul dalam hati
Akankah tunggak jati pun ikutan semi, dan tunggak jarak mati?
Ku tak tahu jawabnya...
Haruskah ku tanyakan pada bintang gemintang atau rumput yang bergoyang?
Agar tersibak semua catatan zaman tuk pijakan langkah ke depan?
Aku hanya bisa terdiam dan bersenandung lagu sunyi...
Du du du duuu...
Du du du du duuu...
Du du du duuu...
Du du du du duuu...
Kebumen, 16 April 2015
-Djati-
Kali ini, kayu nan wangi itu bersemi kembali...
Dan dunia pun makin ramai dengan obah mosiknya
Satu pertanyaan timbul dalam hati
Akankah tunggak jati pun ikutan semi, dan tunggak jarak mati?
Ku tak tahu jawabnya...
Haruskah ku tanyakan pada bintang gemintang atau rumput yang bergoyang?
Agar tersibak semua catatan zaman tuk pijakan langkah ke depan?
Aku hanya bisa terdiam dan bersenandung lagu sunyi...
Du du du duuu...
Du du du du duuu...
Du du du duuu...
Du du du du duuu...
Kebumen, 16 April 2015
-Djati-
Label:
badai,
kayu,
kayuwangi,
kayuwangi semi kembali,
obah mosik,
pohon,
rimbun,
semi,
semi kembali,
tunggak jarak,
tunggak jarak mati,
tunggak jati,
tunggak jati semi,
wangi
Rabu, 21 Januari 2015
Wong Bodho
Wong sing ngamukan kuwe wong bodho, nalare cupet, wong egois, sumbune
pendek. Tik-tik ngamuk nek ana sing ora pas, malah kaya tawon gung...
Ra kena kesenggol blas, kesenggol sitik bae, aja takon dosa! Diamuk
sekayang-kayang.
Beda karo wong pinter... Dipikir disit, dimatna disit ben ngerti
masalahe lan syukur bage nek bisa ngerti jalan keluare, saora-orane
ngerti kepriben kudu b'sikap. Ora asal BRESSS!!!
Pokoke, nek ora ngerti aja isin takon. Aluwung meneng, ngematna bae
timbang melu ngomong lan utawa melu ribut. Nek ora kaya kuwe?
Menang ora kondhang kalah wirang...
====================
Kasinggihan. Justru niku masalahipun... Niku sing tek lakoni... Asal
BRESSS!!! Angsale mung isin lan isin. Saestu, ngrobah adat lan solah
bawa jebul boten gampil. Nek pun watek napa malih... Oalah Gusti...
Tangeh kelawan lamun... Kados boten onten rubahe...
Ning panci kedah dilampahi, sabotenipun nipisaken tuk setitik ben
boten tansah brisik dadine kecelik.
Kebumen, 21 Januari 2015, 06:30
-Djati-
#Sinau_Mikir
pendek. Tik-tik ngamuk nek ana sing ora pas, malah kaya tawon gung...
Ra kena kesenggol blas, kesenggol sitik bae, aja takon dosa! Diamuk
sekayang-kayang.
Beda karo wong pinter... Dipikir disit, dimatna disit ben ngerti
masalahe lan syukur bage nek bisa ngerti jalan keluare, saora-orane
ngerti kepriben kudu b'sikap. Ora asal BRESSS!!!
Pokoke, nek ora ngerti aja isin takon. Aluwung meneng, ngematna bae
timbang melu ngomong lan utawa melu ribut. Nek ora kaya kuwe?
Menang ora kondhang kalah wirang...
====================
Kasinggihan. Justru niku masalahipun... Niku sing tek lakoni... Asal
BRESSS!!! Angsale mung isin lan isin. Saestu, ngrobah adat lan solah
bawa jebul boten gampil. Nek pun watek napa malih... Oalah Gusti...
Tangeh kelawan lamun... Kados boten onten rubahe...
Ning panci kedah dilampahi, sabotenipun nipisaken tuk setitik ben
boten tansah brisik dadine kecelik.
Kebumen, 21 Januari 2015, 06:30
-Djati-
#Sinau_Mikir
Label:
bodho,
egois,
kalah,
kalah wirang,
kecelik,
kondhang,
menang,
menang ora kondang,
nalare cupet,
ngrobah adat,
pinter,
solah bawa,
sumbu pendek,
tuk setitik,
wirang,
wong,
wong bodho
Selasa, 20 Januari 2015
Sudut Pandang
Hanya dengan merubah Sudut Pandang dalam melihat dan menelaah sesuatu,
pengertian dan pemahaman yang kita dapatkan akan sangat berbeda, dan
hal ini juga akan sangat mempengaruhi semua perilaku/perbuatan yang
akan kita lakukan kemudian.
Sebab, dengan mengubah sudut pandang, tentu kita juga mengkalkulasi
ulang secara keseluruhan segala sesuatunya, termasuk apa dan bagaimana
hasilnya nanti. Tidak cukup hanya dengan 'nurut rasaku', 'nurut
anggepku', tapi harus benar-benar berdasarkan 'logika yang masuk
akal', urusan 'rasaku' dan 'anggepku' diselehaken dulu.
Dan harus diakui, merubah 'Sudut Pandang' tidaklah mudah... Harus mau
menambah wawasan dan melepas ego untuk bisa menerima saran serta
pandangan orang lain.
Kebumen, 20 Januari 2014, 08:05
-Djati-
#Sinau_Mikir
pengertian dan pemahaman yang kita dapatkan akan sangat berbeda, dan
hal ini juga akan sangat mempengaruhi semua perilaku/perbuatan yang
akan kita lakukan kemudian.
Sebab, dengan mengubah sudut pandang, tentu kita juga mengkalkulasi
ulang secara keseluruhan segala sesuatunya, termasuk apa dan bagaimana
hasilnya nanti. Tidak cukup hanya dengan 'nurut rasaku', 'nurut
anggepku', tapi harus benar-benar berdasarkan 'logika yang masuk
akal', urusan 'rasaku' dan 'anggepku' diselehaken dulu.
Dan harus diakui, merubah 'Sudut Pandang' tidaklah mudah... Harus mau
menambah wawasan dan melepas ego untuk bisa menerima saran serta
pandangan orang lain.
Kebumen, 20 Januari 2014, 08:05
-Djati-
#Sinau_Mikir
Minggu, 28 Desember 2014
Kesimpulan Akhir
Kesimpulan akhir setelah nglembur nonton Mahabharata (cuz g sabar
nunggu yg diputer di ANTEVE) adalah...
"LUHUR LAN ASORING MANUNGSA GUMANTUNG MARANG PITUKONE-PAKARTINE. KABEH
BAKAL NGUNDUH WOHING PAKARTI."
Kesimpulan yg sama yg ku dapatkan saat aku selesai membaca Mahabharata
sesuai pakem Jawa (meski hanya garis besarnya saja).
Untuk kedalaman pelajaran alias piwulang dan kaweruhnya, masing-masing
memiliki kekhasan sesuai akar budaya setempat. Berhubung aku Wong
Jawa, dari kecil yang ku baca, tonton dan dengarkan adalah yang Jawa (yang India,
kelas 6 SD baru mulai tahu, itupun dengan banyak pertanyaan, sebab banyak
perbedaan dengan yang Jawa) maka yang Jawa lebih banyak kupahami, bisa
diterima dan nabet di hati daripada yang India.
Kesimpulan pokok hanya satu, tambahane? Uuuakeeeeeh... Baik yang India
maupun yang Jawa.
Plus... Tokoh maupun karakter yang disukai sesungguhnya juga
mencerminkan pribadhi kita dan atau cita-cita kita. Betul ga? Akan
seperti apa kita dalam memahami, juga sesuai dengan kapasitas dan
kemampuan kita.
Kebumen, 28 Desember 2014
-Djati-
Label:
ANTV,
asor,
India,
jawa,
kaweruh,
kesimpulan kahir,
luhur,
Mahabharata,
Mahabharata ANTV,
manungsa,
nabet di hati,
ngunduh,
ngunduh wohing pakarti,
pakarti,
pakartine,
pakem Jawa,
pitukone,
piwulang,
wohing,
Wong Jawa
Senin, 22 Desember 2014
Janji
Jangan mengucap janji, jika hanya utk lamis alias pemanis bibir saja,
dan atau tiada niat tuk menepatinya karena sesuatu sebab alias janji
palsu.
Sebab, jika sampai pada waktunya, janji yang telah kau ucap akan
ditagihkan padamu langsung/tidak langsung.
Kau bs mengingkari janji yang telah diucapkan pada orang lain, bahkan
pada Tuhanmu (atau apapun sebutanmu tuk-Nya, uger maksude pada) baik yang
diucapkan dengan sepenuh hati maupun main-main atau sambil lalu, ataupun
janji palsu tuk meyakinkan pihak lain. Ananging alias tetapi... Kau
takkan bisa berbohong pada diri sendiri. Persaksiane diri sendiri, tetep
bakal nganteb najan diorani... :-)
So bin maka... Jangan membuat sengsara dan nista diri sendiri serta
keluarga karena ingkar janji.
Nah, kalau ingkar janji, maka jangan marah saat ada yang bertemu denganmu atau
berpapasan ada yang nyindir dengan nyanyi:
...........
Kau yg mulai kau yg mengakhiri...
Kau yg berjanji kau yg mengingkari...
Hooo... Ooo... Ooo...
Kenapa begini...
............
Jangan kaget juga kalau ada yang berubah sikap bahkan memusuhi karena ingkar janji.
Mau tepati atau ingkari janjimu? Semua tergantung pilihanmu!
-Djati-
#Ayo_Belajar_Tepati_Janji
dan atau tiada niat tuk menepatinya karena sesuatu sebab alias janji
palsu.
Sebab, jika sampai pada waktunya, janji yang telah kau ucap akan
ditagihkan padamu langsung/tidak langsung.
Kau bs mengingkari janji yang telah diucapkan pada orang lain, bahkan
pada Tuhanmu (atau apapun sebutanmu tuk-Nya, uger maksude pada) baik yang
diucapkan dengan sepenuh hati maupun main-main atau sambil lalu, ataupun
janji palsu tuk meyakinkan pihak lain. Ananging alias tetapi... Kau
takkan bisa berbohong pada diri sendiri. Persaksiane diri sendiri, tetep
bakal nganteb najan diorani... :-)
So bin maka... Jangan membuat sengsara dan nista diri sendiri serta
keluarga karena ingkar janji.
Nah, kalau ingkar janji, maka jangan marah saat ada yang bertemu denganmu atau
berpapasan ada yang nyindir dengan nyanyi:
...........
Kau yg mulai kau yg mengakhiri...
Kau yg berjanji kau yg mengingkari...
Hooo... Ooo... Ooo...
Kenapa begini...
............
Jangan kaget juga kalau ada yang berubah sikap bahkan memusuhi karena ingkar janji.
Mau tepati atau ingkari janjimu? Semua tergantung pilihanmu!
-Djati-
#Ayo_Belajar_Tepati_Janji
Kamis, 18 Desember 2014
Dasar Darah
Ilmu Dasar Darah dalam piwulang Jawa, menurut bahasa kekinian, bahasa
Ilmiah adalah Ilmu Genetika/DNA. Dimana dengan mengetahui Dasar Darah
kita sendiri, kita bisa lebih mengerti dan memahami semua kekurangan
dan kelebihan kita, serta bisa membuka seluruh potensi dan bakat yang
terpendam yg kita miliki.
Secara umum, Dasar dibagi menjadi 4:
1. Luhur
2. Utama
3. Biasa/Lumrah/Kaprah
4. Asor
Sedangkan Darah dibagi menjadi 2:
1. Asli/Tulen/Pancer
2. Campuran/Rambon
Dimana, masing-masing memiliki karakter/ciri khas yang akan menjadi
dasar dari Ambek Wateking Manungsa.
Seiring berjalannya waktu, majunya jaman, kesemuanya campur cinampur
tanpa wangenan, sehingga tuk nitik yang tulen pun sulit.
Akan tetapi, pasti ada yang dominan dari Dasar Darah setiap manusia
sesuai dengan yang diwariskan turun temurun dari Bapak dan Ibu.
Katambahan bumbu-bumbu lahir-batin saat Tesing Wiji Bapak-Ibu di Gua
Garbaning Ibu, saat Ibu hanggarbini (hamil), lahir, tumbuh dan
berkembang plus Ajar/Pendidikan langsung ataupun tak langsung yang
didapat selama hidup. Hal ini akan memperkuat ambek wateking
manungsane.
Biasane, Dasar Darah akan lebih muncul, murub saat ketanggor. Maka,
ada ujar-ujar para sepuh, "Nek pengen ngerti Dasar Darah-e Manungsa,
ditanggor bae Manungsane, ngko bakal ngerti kaya apa Dasar Darah-e."
Jika dalam kondisi biasa, tenteram, Dasar Darah hanya makarti secukupnya.
Satu hal yang pasti, Dasar Darah pasti sesuai dengan papan kawitan
kang dadi padunungane Manungsa.
Kebumen, Kamis, 18 Desember 2014, 11:40
-Djati-
#Dasar_Darah
Ilmiah adalah Ilmu Genetika/DNA. Dimana dengan mengetahui Dasar Darah
kita sendiri, kita bisa lebih mengerti dan memahami semua kekurangan
dan kelebihan kita, serta bisa membuka seluruh potensi dan bakat yang
terpendam yg kita miliki.
Secara umum, Dasar dibagi menjadi 4:
1. Luhur
2. Utama
3. Biasa/Lumrah/Kaprah
4. Asor
Sedangkan Darah dibagi menjadi 2:
1. Asli/Tulen/Pancer
2. Campuran/Rambon
Dimana, masing-masing memiliki karakter/ciri khas yang akan menjadi
dasar dari Ambek Wateking Manungsa.
Seiring berjalannya waktu, majunya jaman, kesemuanya campur cinampur
tanpa wangenan, sehingga tuk nitik yang tulen pun sulit.
Akan tetapi, pasti ada yang dominan dari Dasar Darah setiap manusia
sesuai dengan yang diwariskan turun temurun dari Bapak dan Ibu.
Katambahan bumbu-bumbu lahir-batin saat Tesing Wiji Bapak-Ibu di Gua
Garbaning Ibu, saat Ibu hanggarbini (hamil), lahir, tumbuh dan
berkembang plus Ajar/Pendidikan langsung ataupun tak langsung yang
didapat selama hidup. Hal ini akan memperkuat ambek wateking
manungsane.
Biasane, Dasar Darah akan lebih muncul, murub saat ketanggor. Maka,
ada ujar-ujar para sepuh, "Nek pengen ngerti Dasar Darah-e Manungsa,
ditanggor bae Manungsane, ngko bakal ngerti kaya apa Dasar Darah-e."
Jika dalam kondisi biasa, tenteram, Dasar Darah hanya makarti secukupnya.
Satu hal yang pasti, Dasar Darah pasti sesuai dengan papan kawitan
kang dadi padunungane Manungsa.
Kebumen, Kamis, 18 Desember 2014, 11:40
-Djati-
#Dasar_Darah
Minggu, 14 Desember 2014
Mengapa Raden Lesmana Tidak Menitis Ke Bagong?
Masih ingat dengan percakapan Gareng dan Bagong beberapa waktu lalu
tentang Prabu Rama nitis ke Prabu Kresna? Nah, cerita punya cerita,
Gareng yang kemaren kalah adu argumen dengan Bagong kepikiran terus.
Berbekal usulan Mbak Ros Sleman, Gareng gantian mo ngajak diskusi
Bagong tentang Raden Lesmana nitis ke Raden Arjuna. Prabu Rama dan
Prabu Kresna ga dirembug. Gimana ceritane? Yuk kita ikutin...
Gareng : Gong, lagi sante kan? Nglanjut rembug wingi yuh...
Bagong : Rembug yang mana, Kang?
Gareng : Itu loh... Tentang raden Lesmana nitis, masa ga inget?
Bagong : Oh... yang itu. Emang kenapa, Kang? Hayo... pasti masih belum
puas ya? Ngakuuuuu...
Gareng : Hehehehehe.... Iya lah, kan masih ada yang belum dirembug.
Bagong : Okeh, kalau begitu... tek jabanin, Kang. Mari di rembug lagi.
Siapa takut...
Gareng : Weh... sumbarmu jiaaan.... Oke, nek dah siap. Simak pertanyaan saya!
Bagong : Hayo, cepetan ndang takon, Kang!
Gareng : Napa Raden Lesmana ga nitis ke Bagong, tapi nitise ke Ndara Juna?
Bagong : Alaaaah... Kirain mau tanya apa, jebul tanya yang itu... Kan
dah dijawab Mbak Ros dan Kang Djati, tho? Masa harus tek jawab lagi...
Gareng : Iya... Tapi, itu kan baru keterangan awal. Kalau memang kamu
tahu keterangan selanjute, ya terangin sekalian. Jarene tukang
memperhatikan dan mengamati. Masa ga bisa nerusin? Ayo diterusin!
Bagong : Bentar... Kemaren Mbak Ros bilang kalau nitise ke aku, bakal
sundul sebab Raden Lesmana kan tinggi sedang aku pendek. Sedangkan
Kang Djati bilang, kalau nitis ke aku, kalau disuruh perang pasti
bakalan lari. Gitu kan?
Gareng : Betul! Tek kira ga inget, Gong... Jebul inget tha?
Lanjuuuuut.... Tek nyimak wedaranmu, Gong...
Bagong : Hwaaaaah... Gayamu, Kang... Kang... Macem nyimak komen di
pesbuk. Hahahahahaha....
Gareng : Udah, terisun eh terusin.... Ga usah banyak komen.
Bagong : Gini loh, Kang... Jelas aja ga nitis ke Bagong alias aku,
sebab aku ga kaya Ndara Janaka. Pokoke, jauuuuuuuuuh... banget
perbedaane. Gitu, Kang...
Gareng : Wah... Cuma itu? Yang lebih dalem dari itu... Kalau pakem itu
aku tahu, Gong.
Bagong : Hm...
Gareng : Aja mung ham hem ham hem... Ayo, jelasin lagi...
Bagong : Lha... Aku tahune juga Cuma itu, Kang. Jal nek Kang Gareng
sing atine garing njelasaken nek pancen ngerti.
Gareng : Jelas ngertine, Gong. Kene, njagong sing apik, sila, tangane
sedakep kanggo mirengake wedarane pun kakang.
Bagong : Gayamu, Kang...
Gareng : Eit... Aja diorani, mengko mundhak ora jelas leh mirengake.
Bagong : Iya... iyaaa... Wah, bales dendam kiye...
Gareng : Ora bales dendam, hehehehehe... Kaya kiye penjelasane, Gong.
Mirengna sing permati ya?
Bagong : Wis ageh... Kit mau ra sida ngomong! Ngomonga, Kang... Selak
pengin ngerti koh...
Gareng : Hahahahaha.... Penasaran ya? Oke, gini, Gong. Jelas Raden
Lesmana ga bakal nitis ke dirimu lha dasar, darah lan ajarmu juga ga
sebanding alias ga selevel dengan Raden Lesmana. Kalau ga selevel, ga
mungkin bakal dititisi, kalau cuma mampir bentar sakeclapan mungkin
iya. Itu pun dengan syarat teramat khusus pada kondisi ndilalah mbuh
kepriwe ambekmu, kaluhuranmu terutama batinmu lagi bener-bener
sebanding dengan Raden Lesmana, tapi ya mbuh kapan. Hehehehe...
Bagong : Weee....leh mu ngece, Kang.... Kaya kiye kaya kiye aku ya
ambeke apik koh...
Gareng : Lha iya... Tapi apa ya kuat nang pitukon liyane? Kon perang
malah nyurung-nyurung wong liya... Priwe batinmu sebanding dengan
Raden Lesmana?
Bagong : Haaa... hahahaha.... iya ya? Ok! Lanjuuuuut....
Gareng : Dadi, nek arep nitis, pasti ya nitis meng sing sederajat
alias sing selevel ben bisa seimbang ing budi pakartine, lahir batine,
suksma jiwa ragane. Leh penyesuaian uga ora kakehen, sabab nu wis
sebabag antara kang nitis lan kang dititisi.
Bagong : Masuk akal, Kang. Nyatane nek aku sing dititisi Raden
Lesmana, utekku ya ora nyandak nek di ajak mikir kepriben ngatasi
mungsuhe negara, kepriben ngolah praja. Tur maning, nek nitis nang
aku, ra sida duwe bojo akeh. Dasar rupaku ya ora bagus kaya Ndara
Juna.
Gareng : Nah... Kuwe paham.
Bagong : Nek penjelasane kaya gini kan jadi jelas, berarti kalaupun
ada yang mau nitis ke aku, ya yang sebabag denganku kan? Tapi... Siapa
coba yang mau nitis ke aku?
Gareng : Hahahahaha... Ga usah mikir macem begitu, Gong. Jalani aja
hidupmu yang sekarang dengan baik, cukupi butuh keluarga mu, Sih-e
Gusti Kang Maha Esa pasti bakal lumintu padamu. Itu dah lebih dari
cukup tho?
Bagong : Hehehehehe... Iya, Kang. Makasih dah ngingetin. Maklum, lha
kadang mikire malah jadi ribet ya?
Gareng : Ya, begitulah manungsa, Gong... Karepe kurang terus... Maka,
sebenarnya tinggal kembali pada kita sendiri, mau kurang atau mau
cukup. Dah ah, aku mau pamit, Gong. Matur nuwun ya...
Bagong : Oke, Kang Gareng.
Kebumen, Minggu, 14 Desember 2014, 17:32
-Djati-
tentang Prabu Rama nitis ke Prabu Kresna? Nah, cerita punya cerita,
Gareng yang kemaren kalah adu argumen dengan Bagong kepikiran terus.
Berbekal usulan Mbak Ros Sleman, Gareng gantian mo ngajak diskusi
Bagong tentang Raden Lesmana nitis ke Raden Arjuna. Prabu Rama dan
Prabu Kresna ga dirembug. Gimana ceritane? Yuk kita ikutin...
Gareng : Gong, lagi sante kan? Nglanjut rembug wingi yuh...
Bagong : Rembug yang mana, Kang?
Gareng : Itu loh... Tentang raden Lesmana nitis, masa ga inget?
Bagong : Oh... yang itu. Emang kenapa, Kang? Hayo... pasti masih belum
puas ya? Ngakuuuuu...
Gareng : Hehehehehe.... Iya lah, kan masih ada yang belum dirembug.
Bagong : Okeh, kalau begitu... tek jabanin, Kang. Mari di rembug lagi.
Siapa takut...
Gareng : Weh... sumbarmu jiaaan.... Oke, nek dah siap. Simak pertanyaan saya!
Bagong : Hayo, cepetan ndang takon, Kang!
Gareng : Napa Raden Lesmana ga nitis ke Bagong, tapi nitise ke Ndara Juna?
Bagong : Alaaaah... Kirain mau tanya apa, jebul tanya yang itu... Kan
dah dijawab Mbak Ros dan Kang Djati, tho? Masa harus tek jawab lagi...
Gareng : Iya... Tapi, itu kan baru keterangan awal. Kalau memang kamu
tahu keterangan selanjute, ya terangin sekalian. Jarene tukang
memperhatikan dan mengamati. Masa ga bisa nerusin? Ayo diterusin!
Bagong : Bentar... Kemaren Mbak Ros bilang kalau nitise ke aku, bakal
sundul sebab Raden Lesmana kan tinggi sedang aku pendek. Sedangkan
Kang Djati bilang, kalau nitis ke aku, kalau disuruh perang pasti
bakalan lari. Gitu kan?
Gareng : Betul! Tek kira ga inget, Gong... Jebul inget tha?
Lanjuuuuut.... Tek nyimak wedaranmu, Gong...
Bagong : Hwaaaaah... Gayamu, Kang... Kang... Macem nyimak komen di
pesbuk. Hahahahahaha....
Gareng : Udah, terisun eh terusin.... Ga usah banyak komen.
Bagong : Gini loh, Kang... Jelas aja ga nitis ke Bagong alias aku,
sebab aku ga kaya Ndara Janaka. Pokoke, jauuuuuuuuuh... banget
perbedaane. Gitu, Kang...
Gareng : Wah... Cuma itu? Yang lebih dalem dari itu... Kalau pakem itu
aku tahu, Gong.
Bagong : Hm...
Gareng : Aja mung ham hem ham hem... Ayo, jelasin lagi...
Bagong : Lha... Aku tahune juga Cuma itu, Kang. Jal nek Kang Gareng
sing atine garing njelasaken nek pancen ngerti.
Gareng : Jelas ngertine, Gong. Kene, njagong sing apik, sila, tangane
sedakep kanggo mirengake wedarane pun kakang.
Bagong : Gayamu, Kang...
Gareng : Eit... Aja diorani, mengko mundhak ora jelas leh mirengake.
Bagong : Iya... iyaaa... Wah, bales dendam kiye...
Gareng : Ora bales dendam, hehehehehe... Kaya kiye penjelasane, Gong.
Mirengna sing permati ya?
Bagong : Wis ageh... Kit mau ra sida ngomong! Ngomonga, Kang... Selak
pengin ngerti koh...
Gareng : Hahahahaha.... Penasaran ya? Oke, gini, Gong. Jelas Raden
Lesmana ga bakal nitis ke dirimu lha dasar, darah lan ajarmu juga ga
sebanding alias ga selevel dengan Raden Lesmana. Kalau ga selevel, ga
mungkin bakal dititisi, kalau cuma mampir bentar sakeclapan mungkin
iya. Itu pun dengan syarat teramat khusus pada kondisi ndilalah mbuh
kepriwe ambekmu, kaluhuranmu terutama batinmu lagi bener-bener
sebanding dengan Raden Lesmana, tapi ya mbuh kapan. Hehehehe...
Bagong : Weee....leh mu ngece, Kang.... Kaya kiye kaya kiye aku ya
ambeke apik koh...
Gareng : Lha iya... Tapi apa ya kuat nang pitukon liyane? Kon perang
malah nyurung-nyurung wong liya... Priwe batinmu sebanding dengan
Raden Lesmana?
Bagong : Haaa... hahahaha.... iya ya? Ok! Lanjuuuuut....
Gareng : Dadi, nek arep nitis, pasti ya nitis meng sing sederajat
alias sing selevel ben bisa seimbang ing budi pakartine, lahir batine,
suksma jiwa ragane. Leh penyesuaian uga ora kakehen, sabab nu wis
sebabag antara kang nitis lan kang dititisi.
Bagong : Masuk akal, Kang. Nyatane nek aku sing dititisi Raden
Lesmana, utekku ya ora nyandak nek di ajak mikir kepriben ngatasi
mungsuhe negara, kepriben ngolah praja. Tur maning, nek nitis nang
aku, ra sida duwe bojo akeh. Dasar rupaku ya ora bagus kaya Ndara
Juna.
Gareng : Nah... Kuwe paham.
Bagong : Nek penjelasane kaya gini kan jadi jelas, berarti kalaupun
ada yang mau nitis ke aku, ya yang sebabag denganku kan? Tapi... Siapa
coba yang mau nitis ke aku?
Gareng : Hahahahaha... Ga usah mikir macem begitu, Gong. Jalani aja
hidupmu yang sekarang dengan baik, cukupi butuh keluarga mu, Sih-e
Gusti Kang Maha Esa pasti bakal lumintu padamu. Itu dah lebih dari
cukup tho?
Bagong : Hehehehehe... Iya, Kang. Makasih dah ngingetin. Maklum, lha
kadang mikire malah jadi ribet ya?
Gareng : Ya, begitulah manungsa, Gong... Karepe kurang terus... Maka,
sebenarnya tinggal kembali pada kita sendiri, mau kurang atau mau
cukup. Dah ah, aku mau pamit, Gong. Matur nuwun ya...
Bagong : Oke, Kang Gareng.
Kebumen, Minggu, 14 Desember 2014, 17:32
-Djati-
Label:
ajar,
Arjuna,
Bagong,
darah,
dasar,
dasar darah ajar,
Gareng,
Janaka,
Kang Gareng,
Kresna,
Lesmana,
lumintu,
menitis,
Prabu Kresna,
Prabu Rama,
raden,
Raden Arjuna,
Raden Lesmana,
Rama,
Rama nitis
Selasa, 09 Desember 2014
Lakon
Nek sudah masuk lakon,
"PADHAJAYANYA"
Maka, lakon selanjutnya adalah...
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
M
A
G
A
B
A
T
H
A
N
G
A
.
.
.
Yups, selanjutnya lakon,
"MAGABATHANGA"
Sampyuh, sebab semua sudah terbuka kekuatan dan kekurangannya,
ternyata sama kuat dan sama kurangnya, sama rusaknya.
Kartu terakhir pun harus dipergunakan.
Maka, daripada kalah tanpa melawan, mending maju sekalian.
Tinggal berusaha agar mobah mosike, dinamikane bisa lebih berpihak bin
memberi kesempatan lebih baik.
Yang nglanggar Wet, pasti boten diparengaken bertahan.
-Djati, 8 Desember 2014-
#Lakon
"PADHAJAYANYA"
Maka, lakon selanjutnya adalah...
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
M
A
G
A
B
A
T
H
A
N
G
A
.
.
.
Yups, selanjutnya lakon,
"MAGABATHANGA"
Sampyuh, sebab semua sudah terbuka kekuatan dan kekurangannya,
ternyata sama kuat dan sama kurangnya, sama rusaknya.
Kartu terakhir pun harus dipergunakan.
Maka, daripada kalah tanpa melawan, mending maju sekalian.
Tinggal berusaha agar mobah mosike, dinamikane bisa lebih berpihak bin
memberi kesempatan lebih baik.
Yang nglanggar Wet, pasti boten diparengaken bertahan.
-Djati, 8 Desember 2014-
#Lakon
Sabtu, 06 Desember 2014
Kenapa Prabu Rama Nitis ke Prabu Kresna, Raden Lesmana ke Raden Arjuna?
Bagong: Kang, kenapa Prabu Rama dan Raden Lesmana nitisnya ke Prabu
Kresna dan Raden Arjuna?
Gareng: Sebab pakemnya emang begitu.
Bagong: SALAAAAAAAH!!! Mikir dong... Mikir... Masa njawabe gitu...
Gareng: Sebab Titising Wisnu
Bagong: Tesih S-A-L-A-H, SALAH! Jawaban belum benar, you know? (sambil jogedan)
Gareng: Lha sing bener apa, Gong?
Bagong: Masa g tau... Katanya abdi setia gitu lho...
Gareng: Jawabanmu pasti ga beres nih...
Bagong: Wiiii... Su-udon itu... Buruk sangka...
Gareng: Trus jawabane apa? Awas kalau ga maton, tek lapurken Ndara
Arjuna dipotong gaji, Gong...
Bagong: Wah... Ngancem segala. Jawabanku mesti bener, dan kalau Ndara
Janaka tahu, malah gajiku tambah...
Gareng: Gayamu, Gong... Kaya pinter-pintera...
Bagong: Kiyeh, Kang... Dengarkan penjelasane enyong dari hasil
pengamatan menggunakan mata enyong yg mblalak amba ini. D E N G A R K A N !
Gareng: Wis ageh, ngomonga ra nganggo kesuwen.
Bagong: Okeh, okeh! Gini lho, kenapa Prabu Rama dan Raden Lesmana
nitise ke Prabu Kresna dan Raden Janaka, jawabnya adalah...
Dulu Prabu Rama istrinya cuma satu, Raden Lesmana malah g punya istri.
Maka, biar sempurna bin jangkep, nitisnya ya ke Satria Tama yang
istrine banyak, jadi dah ga penasaran lagi. Tau sendiri, Prabu Kresna
dan Raden Janaka berapa banyak istrinya, Kang?
Gareng: Haaa.... Hadeuw... Kok jawabe gitu...
Bagong: Iya kan? Masuk akal itu... Sana tanya ke Ndara Arjuna, pasti
jawabanku bener, hehehehe...
Gareng: ........... (cuma senyum sambil gedhek-gedhek...)
-Djati, 6 Desember 2014-
Kresna dan Raden Arjuna?
Gareng: Sebab pakemnya emang begitu.
Bagong: SALAAAAAAAH!!! Mikir dong... Mikir... Masa njawabe gitu...
Gareng: Sebab Titising Wisnu
Bagong: Tesih S-A-L-A-H, SALAH! Jawaban belum benar, you know? (sambil jogedan)
Gareng: Lha sing bener apa, Gong?
Bagong: Masa g tau... Katanya abdi setia gitu lho...
Gareng: Jawabanmu pasti ga beres nih...
Bagong: Wiiii... Su-udon itu... Buruk sangka...
Gareng: Trus jawabane apa? Awas kalau ga maton, tek lapurken Ndara
Arjuna dipotong gaji, Gong...
Bagong: Wah... Ngancem segala. Jawabanku mesti bener, dan kalau Ndara
Janaka tahu, malah gajiku tambah...
Gareng: Gayamu, Gong... Kaya pinter-pintera...
Bagong: Kiyeh, Kang... Dengarkan penjelasane enyong dari hasil
pengamatan menggunakan mata enyong yg mblalak amba ini. D E N G A R K A N !
Gareng: Wis ageh, ngomonga ra nganggo kesuwen.
Bagong: Okeh, okeh! Gini lho, kenapa Prabu Rama dan Raden Lesmana
nitise ke Prabu Kresna dan Raden Janaka, jawabnya adalah...
Dulu Prabu Rama istrinya cuma satu, Raden Lesmana malah g punya istri.
Maka, biar sempurna bin jangkep, nitisnya ya ke Satria Tama yang
istrine banyak, jadi dah ga penasaran lagi. Tau sendiri, Prabu Kresna
dan Raden Janaka berapa banyak istrinya, Kang?
Gareng: Haaa.... Hadeuw... Kok jawabe gitu...
Bagong: Iya kan? Masuk akal itu... Sana tanya ke Ndara Arjuna, pasti
jawabanku bener, hehehehe...
Gareng: ........... (cuma senyum sambil gedhek-gedhek...)
-Djati, 6 Desember 2014-
Label:
Arjuna,
Bagong,
Gareng,
Janaka,
Kresna,
Lesmana,
nitis,
Prabu Kresna,
Prabu Rama,
Raden Arjuna,
Raden Janaka,
Raden Lesmana,
Rama,
Rama nitis,
satria tama,
titising,
titising Wisnu,
Wisnu
Kamis, 20 November 2014
Siapa Yang Ingin Ke Surga?
"Anak-anak, siapa yang ingin ke surga?" tanya Bunda Guru di PAUD anakku.
Hampir semua anak tunjuk jari, hampir... Sebab anakku g mau tunjuk
jari, tapi malah menangis.
"Kenapa nangis, Mamas?" tanya Bunda Guru.
"Mamas masih belum mau mati, masih belum mau pisah sama Ayah Bunda.
Kata Bunda, bisa ke surga setelah mati," jawab anakku sambil
sesenggukan dengan muka sedih.
Bunda Guru pun hanya tersenyum dan g tau harus bilang apalagi dengar
jawaban anakku.
Aku cuma senyum n ketawa pas Bundane Candra crita seperti itu.
Sungguh, g mudah memberi pemahaman tentang Surga pada anak kecil.
Terlebih saat Candra mburu, "Kapan kita bisa ke Surga? Naik apa
kesana? Di Surga ada apa aja? Kenapa harus ke Surga dan mau apa di
Surga?"
Pertanyaan sederhana, tapi jawabnya butuh mikir jero agar tepat,
simpel dan jelas sehingga mudah dipahami anak kecil tanpa membuatnya
takut atau khawatir.
Sebab, tujuane bukan membuat anak menurut dan berbuat baik karena
takut pada sesuatu, tapi memahami dan mengerti, membuka nalar dan
pikir anak bahwa dia tahu maksud dan tujuan dari semua perbuatannya,
jangan sampai merugikan diri sendiri apalagi orang lain.
Kedepannya, pasti akan lebih banyak lagi pertanyaan kritis... Dan
jalan keluarnya cuma satu, "BELAJAR!"
Why? Agar bisa memberi penjelasan awal yang baik sebagai dasar
pengetahuane Candra atau anak kecil lainnya yang bertanya dengan
kritis.
Kebumen, 20 November 2014
-Djati-
Hampir semua anak tunjuk jari, hampir... Sebab anakku g mau tunjuk
jari, tapi malah menangis.
"Kenapa nangis, Mamas?" tanya Bunda Guru.
"Mamas masih belum mau mati, masih belum mau pisah sama Ayah Bunda.
Kata Bunda, bisa ke surga setelah mati," jawab anakku sambil
sesenggukan dengan muka sedih.
Bunda Guru pun hanya tersenyum dan g tau harus bilang apalagi dengar
jawaban anakku.
Aku cuma senyum n ketawa pas Bundane Candra crita seperti itu.
Sungguh, g mudah memberi pemahaman tentang Surga pada anak kecil.
Terlebih saat Candra mburu, "Kapan kita bisa ke Surga? Naik apa
kesana? Di Surga ada apa aja? Kenapa harus ke Surga dan mau apa di
Surga?"
Pertanyaan sederhana, tapi jawabnya butuh mikir jero agar tepat,
simpel dan jelas sehingga mudah dipahami anak kecil tanpa membuatnya
takut atau khawatir.
Sebab, tujuane bukan membuat anak menurut dan berbuat baik karena
takut pada sesuatu, tapi memahami dan mengerti, membuka nalar dan
pikir anak bahwa dia tahu maksud dan tujuan dari semua perbuatannya,
jangan sampai merugikan diri sendiri apalagi orang lain.
Kedepannya, pasti akan lebih banyak lagi pertanyaan kritis... Dan
jalan keluarnya cuma satu, "BELAJAR!"
Why? Agar bisa memberi penjelasan awal yang baik sebagai dasar
pengetahuane Candra atau anak kecil lainnya yang bertanya dengan
kritis.
Kebumen, 20 November 2014
-Djati-
Sabtu, 15 November 2014
Dahulu Mana, Telur dan Ayam?
Pertanyaan klasik dan ajeg yg jadi bahan debat tanpa ujung jika
ngrembug bab Sangkan adalah...
.
.
.
.
.
Disit ndi endog karo pitik?
(Dulu mana telur dengan ayam?)
Kalau ditinjau dari tata bahasanya, alias urutan katanya, maka dulu 'telur' daripada 'ayam'.
Mengapa?
Sebab, 'telur' disebut terlebih dahulu, barulah 'ayam' disebut.
.
.
.
.
.
Disit ndi endog karo pitik?
(Dulu mana telur dengan ayam?)
Kalau ditinjau dari tata bahasanya, alias urutan katanya, maka dulu 'telur' daripada 'ayam'.
Mengapa?
Sebab, 'telur' disebut terlebih dahulu, barulah 'ayam' disebut.
Demikian juga jika posisi kata 'telur' dan 'ayam' ditukar, maka dulu
'ayam' daripada 'telur'.
Ini yang pertama yang jadi pokok perdebatan tak berujung, urutan kata.
Yang kedua, pasti berdebat bahwa 'telur' itu berasal dari 'ayam', maka tanpa ada 'ayam' pasti tak ada 'telur', yang kemudian akan dibantah bahwa, 'ayam' itu berasal dari 'telur', maka tanpa ada 'telur' mustahil adanya 'ayam'. Dan masing-masing pasti mathok bangkrung pada pendapatnya tanpa adanya titik temu, sebab tidak mungkin dua-duanya ada pada saat awal mula diciptakan.
Kalau menurutku, jawaban pertanyaan itu adalah 'telur' dahulu yang ada/diciptakan, hal ini sesuai dengan kenyataan adanya proses pertumbuhan dari Tesing Wiji-Lahir-Tumbuh dari kecil sampai
dewasa-Mati.
Semua berproses, tidak ujug-ujug mak jegagig jadi 'ayam'. Jika langsung jadi 'ayam' maka tak ada proses pertumbuhan, tesing Wiji, lahir dan mati. Kekal adanya sebab sudah dewasa.
Apa iya, nurunken wijine alias berkembang biake lahir langsung gedhe, dewasa? Ga mungkin! Bagaimana proses keluar anak dari induknya kalau
sang anak langsung dewasa?
Hal ini berlaku di semua dhumadhi urip (manungsa, hewan, tumbuh-tumbuhan).
Dadi, disit endog tinimbang ayam.
Disit Wiji Dhumadhi tinimbang Dhumadhine.
Kebumen, 14 November 2014, 8:50
-Djati-
#Wiji
Ini yang pertama yang jadi pokok perdebatan tak berujung, urutan kata.
Yang kedua, pasti berdebat bahwa 'telur' itu berasal dari 'ayam', maka tanpa ada 'ayam' pasti tak ada 'telur', yang kemudian akan dibantah bahwa, 'ayam' itu berasal dari 'telur', maka tanpa ada 'telur' mustahil adanya 'ayam'. Dan masing-masing pasti mathok bangkrung pada pendapatnya tanpa adanya titik temu, sebab tidak mungkin dua-duanya ada pada saat awal mula diciptakan.
Kalau menurutku, jawaban pertanyaan itu adalah 'telur' dahulu yang ada/diciptakan, hal ini sesuai dengan kenyataan adanya proses pertumbuhan dari Tesing Wiji-Lahir-Tumbuh dari kecil sampai
dewasa-Mati.
Semua berproses, tidak ujug-ujug mak jegagig jadi 'ayam'. Jika langsung jadi 'ayam' maka tak ada proses pertumbuhan, tesing Wiji, lahir dan mati. Kekal adanya sebab sudah dewasa.
Apa iya, nurunken wijine alias berkembang biake lahir langsung gedhe, dewasa? Ga mungkin! Bagaimana proses keluar anak dari induknya kalau
sang anak langsung dewasa?
Hal ini berlaku di semua dhumadhi urip (manungsa, hewan, tumbuh-tumbuhan).
Dadi, disit endog tinimbang ayam.
Disit Wiji Dhumadhi tinimbang Dhumadhine.
Kebumen, 14 November 2014, 8:50
-Djati-
#Wiji
Sabtu, 01 November 2014
Pendengar Yang Baik
Terkadang, jadi pendengar yg baik dan tetap diam malah lebih baik,
tinimbang komen malah salah dan mlenceng jaoooooooooooh dari konteks
yg dibicarakan sebab kita g tau apa yg jadi topiknya.
Nah, jika diberi kesempatan tuk bertanya, tanyakan yg belum dipahami
agar semua menjadi jelas.
Dengan demikian, kita jadi bisa memahami dan mencerna topik yg ada dg
lebih baik serta lebih obyektif.
-Djati-
#pendengar_yang_baik
tinimbang komen malah salah dan mlenceng jaoooooooooooh dari konteks
yg dibicarakan sebab kita g tau apa yg jadi topiknya.
Nah, jika diberi kesempatan tuk bertanya, tanyakan yg belum dipahami
agar semua menjadi jelas.
Dengan demikian, kita jadi bisa memahami dan mencerna topik yg ada dg
lebih baik serta lebih obyektif.
-Djati-
#pendengar_yang_baik
Jumat, 31 Oktober 2014
Aja Kerut, Ndak Kebungsut
Iki piye iki piye iki piyeee...eee...
Iki piyeee...eee...
Dadine kog kaya kiye...
Jarene jarene... Lahir sampai batin harus sinkron
Antara pikiran, rasa, ucapan dan tindakan tuh harus sama
(goroh wenang 1-2x tuk yg very very very urgen demi kebaikan bersama, okelah...)
Kenyatane?
Antara yg diucapkan sungguh berbeda dengan yang dilakukan...
Apalagi dengan yang dipikirkan, dirasakan... Uaduooooooooheee
puoooooool bedane...
Sangat sangat sangat diferent (mg g salah nulis)!
Itu sih bukan goroh wenang lagi...
Tipu muslihat akal bulus, bahasa haluse ya disebut strategi. Tapi,
berhubung polane mirip Patih Sengkuni dan Pendita Durna, kayanya lebih
tepat disebut akal bulus ya?
Kalau itu yang terjadi, tipu sana tipu sini pakai kedok Jamus
Kalimasada... Ujung-ujunge ya remuk lah...
Sebab, gimana mo nglenggahaken kamanungsane, kalau tipu-tipu jal?
Anyway, apapun yang terjadi, tetep harus punya ner agar ga keblasuk,
kejlomprong di jurang kanistan.
Tansah eling lan waspada dan... Memanusiakan manusia. Sehingga bisa
lolos dari pacoban, pada akhirnya bisa gawe rahayuning sarira lan
kulawarga, syukur bage sumrambah masyarakat, bangsa lan negara.
Aja kerut mengko ndak kebungsut,
Tansaha eling lan waspada supaya antuk begja
Kebumen, Jumat, 31 Oktober 2014
-Djati-
Iki piyeee...eee...
Dadine kog kaya kiye...
Jarene jarene... Lahir sampai batin harus sinkron
Antara pikiran, rasa, ucapan dan tindakan tuh harus sama
(goroh wenang 1-2x tuk yg very very very urgen demi kebaikan bersama, okelah...)
Kenyatane?
Antara yg diucapkan sungguh berbeda dengan yang dilakukan...
Apalagi dengan yang dipikirkan, dirasakan... Uaduooooooooheee
puoooooool bedane...
Sangat sangat sangat diferent (mg g salah nulis)!
Itu sih bukan goroh wenang lagi...
Tipu muslihat akal bulus, bahasa haluse ya disebut strategi. Tapi,
berhubung polane mirip Patih Sengkuni dan Pendita Durna, kayanya lebih
tepat disebut akal bulus ya?
Kalau itu yang terjadi, tipu sana tipu sini pakai kedok Jamus
Kalimasada... Ujung-ujunge ya remuk lah...
Sebab, gimana mo nglenggahaken kamanungsane, kalau tipu-tipu jal?
Anyway, apapun yang terjadi, tetep harus punya ner agar ga keblasuk,
kejlomprong di jurang kanistan.
Tansah eling lan waspada dan... Memanusiakan manusia. Sehingga bisa
lolos dari pacoban, pada akhirnya bisa gawe rahayuning sarira lan
kulawarga, syukur bage sumrambah masyarakat, bangsa lan negara.
Aja kerut mengko ndak kebungsut,
Tansaha eling lan waspada supaya antuk begja
Kebumen, Jumat, 31 Oktober 2014
-Djati-
Nimbang-Nimbang...
Ehm... Nimbang-nimbang neh...
Mo ikutan teladan para Dewa di Kahyangan Bulus Sena yg lagi matek Aji
Pathok Bangkrung Pokrol Bambu Waton Sulaya...
Atauuuuuuuuuuu...
Ngikutin petuah seorang Raja beberapa waktu lalu pada seorang calon
pemimpin, "Memanusiakan Manusia"...
Ehm... Yang mana y...???
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ah iya, aku kan manusia!
Maka lebih baik aku ngestukaken petuah Sang Raja mawon, "Memanusiakan Manusia."
Nek para Dewa mau sakarepe, nggih mangga... Mumet mumeta dewek nganah...
-Djati-
#Memanusiakan_Manusia
Mo ikutan teladan para Dewa di Kahyangan Bulus Sena yg lagi matek Aji
Pathok Bangkrung Pokrol Bambu Waton Sulaya...
Atauuuuuuuuuuu...
Ngikutin petuah seorang Raja beberapa waktu lalu pada seorang calon
pemimpin, "Memanusiakan Manusia"...
Ehm... Yang mana y...???
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ah iya, aku kan manusia!
Maka lebih baik aku ngestukaken petuah Sang Raja mawon, "Memanusiakan Manusia."
Nek para Dewa mau sakarepe, nggih mangga... Mumet mumeta dewek nganah...
-Djati-
#Memanusiakan_Manusia
Senin, 20 Oktober 2014
Menunggu Pidato Pelantikan Jokowi
Menunggu Pidato Pelantikan
Menunggu Pidato Pelantikan Jokowi, pengen tau apa yang akan
disampaikan beliau. Pidato pertama sebagai Presiden adalah gambaran
umum arah kebijakan dalam memerintah nanti.
Interior Ruang Rapat Paripurna Gedung Kura-Kura juga bernuansa Merah
Putih. G main-main neh...
Semangat dan Jiwa Merah Putih? Baguslah kalau begitu!
G main-main lho maknanya Merah Putih... Dalem dan luhur buanget!!!
G sekedar berani karena benar. Merah itu Kekuasaan Negara, Putih
adalah Suara Rakyat.
Maka, jika sampai Eksekutif, Legislatif dan Yudikatif sebagai
representasi Kekuasaan negara semua kebijakannya tidak pro rakyat,
berarti sudah melanggar amanat rakyat.
Merah itu manusia, Putih Itu Tuhan. Karena menyadari bahwa Manusia itu
ciptaan Tuhan, Wakil Tuhan di muka bumi, maka harus Lenggah
Kamanungsane lan Lenggah Ketuhanane, sehingga pemangku Kekuasaan
Negara benar-benar amanah pada Rakyat, mensejahterakan Rakyat.
Kebumen, Senin, 20 Oktober 2014, 09:50
-Djati-
Menunggu Pidato Pelantikan Jokowi, pengen tau apa yang akan
disampaikan beliau. Pidato pertama sebagai Presiden adalah gambaran
umum arah kebijakan dalam memerintah nanti.
Interior Ruang Rapat Paripurna Gedung Kura-Kura juga bernuansa Merah
Putih. G main-main neh...
Semangat dan Jiwa Merah Putih? Baguslah kalau begitu!
G main-main lho maknanya Merah Putih... Dalem dan luhur buanget!!!
G sekedar berani karena benar. Merah itu Kekuasaan Negara, Putih
adalah Suara Rakyat.
Maka, jika sampai Eksekutif, Legislatif dan Yudikatif sebagai
representasi Kekuasaan negara semua kebijakannya tidak pro rakyat,
berarti sudah melanggar amanat rakyat.
Merah itu manusia, Putih Itu Tuhan. Karena menyadari bahwa Manusia itu
ciptaan Tuhan, Wakil Tuhan di muka bumi, maka harus Lenggah
Kamanungsane lan Lenggah Ketuhanane, sehingga pemangku Kekuasaan
Negara benar-benar amanah pada Rakyat, mensejahterakan Rakyat.
Kebumen, Senin, 20 Oktober 2014, 09:50
-Djati-
Jumat, 17 Oktober 2014
Pusat Lelakoning Bawana
Sapa ta kang dadi Pusat Lelakoning Bawana?
Manungsa.
Tanpa ana manungsa, ora bakal ana lelakon ing bawana.
Kabeh kang ana ing jagad iya bawana kang gumelar iki kanggo manungsa,
digunakake lan diolah dening manungsa kanggo nyukupi butuhing
manungsa.
Sapira kuwasane manungsa anggone nggelar lan nggulung jagad iya bawana
iki, gumantung marang sapira kapinterane, kaluwihane, iguh pratikele
manungsa ngolah bawana saisine.
Manungsa kuwe sinakarsa, apa kang den usahakake iya diikhtiari pasti
diijabah dening Gusti Allah Kang Maha Mahaning Maha sesuai pitukon
manungsane.
Ala lan becik, nyimpang lan utama, asor lan luhur kasile saka
pitukone, uga manungsane dewe kang ngrasakake. Kabeh mau gumantung
marang obah mosike, dinamikane manungsane sesuai jaman kang lagi
kelakon.
Sangsaya abot pitukone saya dibelani tohpati pisan, sangsaya
ngedab-edabi kasile.
Mula, sanajan manungsa kuwe kang dadi Pusat Lekakoning Bawana, manawa
ora hanjaman lan ora gelem iguh pratikel, pasti bakal kalindes dening
lakuning jaman. Tundone kesandung ing rata kebenthus ing awang-awang,
hidup segan mati tak mau... Apes mblebes...
Saya saya manawa ora gelem gregah tangi kanggo mbengkas kabeh rubedha,
reruweh lan kala kang disandang... Duh, paribasan agawe cilaka pitung
turunan...
Saiki, kari kepriye manungsane, arep dadi Pusat Lelakoning Bawana
(saora-orane Bawana Pribadhi-ne dewe, syukur bage manawa bisa bawana
kang gumelar iki), apa mung dadi penonton kang anut grubyuk melu
lakoning liyan?
Jawaben dewe, ananging eling den eling, jawabane kudu dinyatakake
supaya jujur marang pribadhine karana wus nglakoni apa kang dadi
jawaban mau.
Kebumen, Jumat, 17 Oktober 2014, 15:30
-Djati-
Manungsa.
Tanpa ana manungsa, ora bakal ana lelakon ing bawana.
Kabeh kang ana ing jagad iya bawana kang gumelar iki kanggo manungsa,
digunakake lan diolah dening manungsa kanggo nyukupi butuhing
manungsa.
Sapira kuwasane manungsa anggone nggelar lan nggulung jagad iya bawana
iki, gumantung marang sapira kapinterane, kaluwihane, iguh pratikele
manungsa ngolah bawana saisine.
Manungsa kuwe sinakarsa, apa kang den usahakake iya diikhtiari pasti
diijabah dening Gusti Allah Kang Maha Mahaning Maha sesuai pitukon
manungsane.
Ala lan becik, nyimpang lan utama, asor lan luhur kasile saka
pitukone, uga manungsane dewe kang ngrasakake. Kabeh mau gumantung
marang obah mosike, dinamikane manungsane sesuai jaman kang lagi
kelakon.
Sangsaya abot pitukone saya dibelani tohpati pisan, sangsaya
ngedab-edabi kasile.
Mula, sanajan manungsa kuwe kang dadi Pusat Lekakoning Bawana, manawa
ora hanjaman lan ora gelem iguh pratikel, pasti bakal kalindes dening
lakuning jaman. Tundone kesandung ing rata kebenthus ing awang-awang,
hidup segan mati tak mau... Apes mblebes...
Saya saya manawa ora gelem gregah tangi kanggo mbengkas kabeh rubedha,
reruweh lan kala kang disandang... Duh, paribasan agawe cilaka pitung
turunan...
Saiki, kari kepriye manungsane, arep dadi Pusat Lelakoning Bawana
(saora-orane Bawana Pribadhi-ne dewe, syukur bage manawa bisa bawana
kang gumelar iki), apa mung dadi penonton kang anut grubyuk melu
lakoning liyan?
Jawaben dewe, ananging eling den eling, jawabane kudu dinyatakake
supaya jujur marang pribadhine karana wus nglakoni apa kang dadi
jawaban mau.
Kebumen, Jumat, 17 Oktober 2014, 15:30
-Djati-
Label:
ala lan becik,
asor,
bawana,
gumelar,
iguh pratikel,
jagad,
kalindes jaman,
lelakon,
lelakoning,
luhur,
manungsa,
nyimpang,
obah mosike,
pitukone,
pribadhine,
pusat,
Pusat Lelakoning Bawana,
tohpati,
utama
Ketika Dua Putra Bangsa Bertemu
Salah satu hal yang membuatku bersyukur hari ini adalah ketika ku tahu
dua putra bangsa bertemu, Pak Jokowi dan Pak Prabowo lalu mengatakan
bahwa cita-cita beliau berdua adalah sama, yakni menjaga keutuhan
Republik Indonesia, Pancasila, UUD 1945 Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI.
Semuanya adalah demi perbaikan bangsa dan negara ini.
Meski ada cem-macem pertanyaan yang timbul dan bikin ketar-ketir, hal
itu dikesampingkan dulu. Positif thinking ajaaah... :-D
Mari kita tunggu dan saksikan saja akan bagaimana nantinya.
Besar harapanku, cita-cita beliau b'dua benar-benar terimplementasi
dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sehingga rakyat bisa makmur
dan sejahtera.
Semoga benar-benar terwujud Indonesia Hebat Berjiwa Merah Putih. Amin.
Kebumen, Jumat, 17 Oktober 2014, 14:17
-Djati-
dua putra bangsa bertemu, Pak Jokowi dan Pak Prabowo lalu mengatakan
bahwa cita-cita beliau berdua adalah sama, yakni menjaga keutuhan
Republik Indonesia, Pancasila, UUD 1945 Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI.
Semuanya adalah demi perbaikan bangsa dan negara ini.
Meski ada cem-macem pertanyaan yang timbul dan bikin ketar-ketir, hal
itu dikesampingkan dulu. Positif thinking ajaaah... :-D
Mari kita tunggu dan saksikan saja akan bagaimana nantinya.
Besar harapanku, cita-cita beliau b'dua benar-benar terimplementasi
dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sehingga rakyat bisa makmur
dan sejahtera.
Semoga benar-benar terwujud Indonesia Hebat Berjiwa Merah Putih. Amin.
Kebumen, Jumat, 17 Oktober 2014, 14:17
-Djati-
Langganan:
Postingan (Atom)


